Breaking News:

Pariwisata Internasional Bali Direncanakan Buka Pada April 2022, Menkes Memahami Pasti Berat

Menkes memahami menunggu setahun lagi tentunya sangat berat bagi pelaku pariwisata di Bali dan berdampak pada perekonomian

Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Eviera Paramita Sandi
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Sejumlah wisman asal China menikmati wisata kuliner di Kedonganan, Kecamatan Kuta, Badung, Senin (2/12/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Pelaku pariwisata Bali tampaknya harus bersabar lagi untuk menerima kunjungan wisatawan asing (wisman). 

Hal ini karena Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin menyebut pihaknya merancang pembukaan Bali untuk wisatawan internasional pada bulan April tahun 2022.

Itu artinya perlu setahun lagi agar pariwisata internasional dibuka seutuhnya. 

“Sebab Kementerian Kesehatan ingin supaya Bali mendapat kepercayaan internasional dalam penanganan Covid-19,” ujarnya saat ditemui di Bebek Tepi Sawah, Kecamatan Ubud, Gianyar, Bali, Jumat 12 Maret 2021 siang.

Kemenkes saat ini baru membuat pilot proyek untuk Ubud dan dua lokasi lainnya, yaitu Nusa Dua di Kabupaten Badung, dan Sanur di Kota Denpasar.

Menkes memahami menunggu setahun lagi tentunya sangat berat bagi pelaku pariwisata di Bali dan berdampak pada perekonomian Bali yang sepenuhnya bergantung pada pariwisata.

Akan tetapi untuk membuka kunjungan wisatawan asing ke Bali, pemerintah tidak hanya berbicara secepatnya.

"Saya mengerti. Tapi yang kita inginkan bukan hanya secepat-cepatnya, tetapi juga sebaik-baiknya sehingga mendapatkan kepercayaan dari dunia internasional. Bali harus menjadi daerah pariwisata di dunia yang protokol kesehatanya baik," tegasnya.

Oleh sebab itu menurut Menkes, persiapan yang dilakukan untuk membuka pintu internasional harus matang.

“Dan, harus melibatkan institusi internasional seperti WHO dan Unicef. Supaya benar-benar diakui secara internasional," ujarnya.

Tiga Tahap

Sebelumnya pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan telah merancang skema re-opening zona hijau atau green zone Ubud dan Nusa Dua.

Skema ini dibagi dalam tiga tahapan dalam kurun waktu setahun, Maret 2021-Maret 2022.

Skema tahap pertama berlangsung Maret sampai Juni 2021.

Pada periode akhir Maret hingga April 2021 akan dilakukan vaksinasi penduduk dan pekerja wisata, koordinasi lintas K/L dan penyiapan aplikasi tracing.

Selanjutnya pada periode Mei sampai Juni 2021 akan dilakukan vaksinasi pekerja wisata tahap II ditambah vaksinasi petugas pintu kedatangan wisatawan dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali.

Skema tahap kedua dirancang dari Juli sampai Desember 2021.

Pada periode Juli sampai September 2021 akan dilakukan pengawasan protokol kesehatan (prokes) masyararakat lokal keluar masuk zona hijau.

Selanjutnya bulan Oktober sampai Desember, pengawasan prokes tersebut akan dievaluasi evakuator eksternal untuk persiapan pembukaan wisatawan asing.

Skema tahap ketiga dari Januari sampai Maret 2022.

Dalam skema tahap ketiga ini, jika semua tahapan tadi telah berjalan baik maka pemerintah pusat akan melakukan uji coba membuka Bali untuk kunjungan wisatawan asing.

Uji coba akan berlangsung dari Januari sampai Maret 2022.

Sementara pembukaan resmi zona hijau Ubud dan Nusa Dua sekaligus pembukaan wisatawan asing akan dilakukan pada April 2022.

Menkes Budi Gunadi menjelaskan, saat ini pihaknya akan memulai tahapan terkait green zone Covid-19 tersebut.

"Kita akan segera mulai. Saya sudah menghadap Pak Gubernur. Siap-siap menjadikan Bali turis destination yang paling sehat. Ini butuh waktu," ujarnya.

Budi Gunadi mengatakan, capaian keberhasilan ini akan diukur dari kesediaan WHO dan Unicef melakukan pertemuan di Bali.

"Idealnya Bali disebut layak dikunjungi setelah WHO dan Unicef mau melakukan pertemuan internasional di Bali," tambahnya.

Sebelumnya, Ketua PHRI DPD Badung sekaligus Wakil Ketua PHRI Bali, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, menyatakan waktunya terlalu lama jika Bali baru dibuka untuk pariwisata internasional April 2022.

Padahal situasi dan kondisi pariwisata di Bali sangat parah setelah setahun terdampak pandemi Covid-19.

"Situasi dan kondisi di Bali sudah sangat parah, sudah berdarah-darah,” tegas Rai Suryawijaya, Rabu 10 Maret 2021.

Bahkan, kata dia, sekarang tingkat hunian hotel ada yang single digit (di bawah 10 persen).

Income tersebut tidak dapat mengcover biaya operasional hotel, bahkan minus terus.

“Ini sudah berjalan setahun, bayangkan kalau kita tunda sampai tahun depan akan menambah parah sekali dampaknya," ungkapnya.

Saat ini, kata dia, sudah banyak hotel sudah hampir setahun tidak buka dan kondisinya mulai rusak.

Tentu akan makin terpuruk lagi jika wisatawan asing baru dibuka tahun depan. (weg/zae)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved