Serba Serbi
Pandita Bertugas Memberi Pendidikan, Berikut Penjelasan Ida Bagus Subrahmaniam Saitya
Dalam acara ‘Diskusi Pemuda-Pemudi Hindu Fenomena Pedanda Baka’ dijelaskan ihwal pandita dalam sastra Hindu.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Pandita dalam masyarakat Hindu berkedudukan sebagai gurunya masyarakat di dalam bidang kerohanian.
Oleh karena dalam hidup ini, jelas dia, idealnya rohanilah sebagai pengendali kehidupan duniawi.
Lanjutnya pandita juga disebut Sadhaka.
Artinya orang yang mampu melakukan sadhana (merealisasikan atau mewujudkan).
“Barangsiapa yang mampu merealisasikan kebenaran Veda, beliau itulah dapat disebut sadhaka,” katanya.
Sehingga orang yang sudah mampu merealisasikan kebenaran Weda dalam hidupnya ini.
Semestinya menjadi pandita yang disahkan melalui upacara dwijati.
Sebab sulinggih yang dipadankan dengan pandita memiliki arti kedudukan yang baik.
“Sejalan dengan itu, (Kesuma, 2008:15) mengatakan bahwa sulinggih merupakan bagian dari kelompok brahmana,” sebut Ketua DPK Peradah Denpasar ini.
Brahmana, kata dia, adalah kelompok individu yang terdiri atas para sulinggih, para ahli kitab, ilmuwan, dan para pujangga.
Di Bali sendiri, brahmana juga merupakan sebuah klan atau wangsa/soroh berdasarkan garis keturunan patrilianial.
“Seorang pandita atau diksita merupakan sarana atau jalan untuk mentransfer pengetahuan ketuhanan. Jadi demi kemurnian ajaran, maka garis perguruan benar-benar dipertahankan kesuciannya,” jelasnya.
Oleh karena itu, tidak sembarangan seorang nabe akan menganugerahkan diksa.
“Seorang pandita berfungsi memberikan pendidikan, tuntunan, dan mengentaskan kegelapan pikiran umat (masyarakat). Demi terwujudnya kesejahteraan dan kebahagiaan lahir-batin,” jelas Baga Pandita dan Pinandita MDA Provinsi Bali ini.
Seorang pandita bukan hanya berfungsi sebagai pamuput upacara yadnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/suasana-diskusi-yang-dilangsungkan-pk-aphb-denpasar.jpg)