Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serba Serbi

Pandita Bertugas Memberi Pendidikan, Berikut Penjelasan Ida Bagus Subrahmaniam Saitya

Dalam acara ‘Diskusi Pemuda-Pemudi Hindu Fenomena Pedanda Baka’ dijelaskan ihwal pandita dalam sastra Hindu.

Tayang:
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Suasana diskusi yang dilangsungkan PK APHB Denpasar dan DPC Persadha Nusantara Denpasar - Pandita Bertugas Memberi Pendidikan, Berikut Penjelasan Ida Bagus Subrahmaniam Saitya 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam acara ‘Diskusi Pemuda-Pemudi Hindu Fenomena Pedanda Baka’ dijelaskan ihwal pandita dalam sastra Hindu.

Materi tersebut dibawakan oleh Dosen Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa, I Bagus Subrahmaniam Saitya, di ruang rapat kantor PHDI Bali, Denpasar, Bali.

Ia menjelaskan, naskah keagamaan yang teksnya mengandung ajaran ketuhanan adalah teks Tattwa.

“Namun tidak menutup kemungkinan, bagi lontar-lontar yang bukan termasuk jenis Tattwa juga mengandung ajaran ketuhanan,” sebutnya, Jumat 19 Maret 2021.

Baca juga: Kisah Pedanda Baka, Jadi Perbincangan Hangat Para Kaula Muda

Baca juga: Makna Upacara Melasti Sebelum Hari Raya Nyepi Bagi Umat Hindu Bali

Baca juga: Sulinggih Diusulkan Divaksinasi Setelah Pelayanan Publik, 11.139 Masyarakat Tabanan Sudah Divaksin

Kemudian naskah keagamaan yang mengandung ajaran etika, terdapat di dalam kelompok sasana.

“Dewasa ini, sasana seorang pandita sangat disorot oleh khalayak umat Hindu, dikarenakan kemajuan zaman yang pesat,” katanya.

Pandita di dalam beberapa literatur juga disebut sebagai sulinggih.

Kemudian sulinggih dalam Bahasa Indonesia dipadankan dengan pendeta (pandita/pedanda).

Pandita, kata dia, adalah orang yang telah mampu menguasai dirinya berdasarkan Jnayana Agni.

Yang artinya adalah kemampuan untuk menjadikan ilmu pengetahuan suci Weda, sebagai sumber penerangan jiwa.

Sehingga Avidya terhapuskan.

“Pengertian pandita lebih ditekankan pada kedudukan sebagai guru kerohanian yang membimbing masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya,” katanya.

Memahami ajaran Veda dan sastranya, untuk menjadi pandita melalui sistem perguruan tertentu.

“Menurut Wiana (2007:41), tiap-tiap sampradaya atau sekte Hindu, memiliki sistem perguruannya masing-masing. Umat Hindu di Bali umumnya penganut Siva Siddhanta, memiliki perguruan yang disebut aguron-guron,” katanya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved