Serba Serbi
Kisah Pedanda Baka, Jadi Perbincangan Hangat Para Kaula Muda
Kisah ‘Pedanda Baka’ nampaknya belakangan menjadi hangat untuk diperbincangkan.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kisah ‘Pedanda Baka’ nampaknya belakangan menjadi hangat untuk diperbincangkan.
Apalagi dengan munculnya beberapa kasus, yang menyeret kalangan sulinggih di Bali.
Tak pelak kasus ini dikait-kaitkan dengan kisah Pedanda Baka, yang memiliki makna tentang seorang pendusta berkedok agama.
Sebab sejatinya, seorang sulinggih adalah pemuka agama yang telah lepas dari duniawi.
Baca juga: Kremasi Ida Pendanda Tianyar Begitu Sederhana, Ternyata Ini Pesannya Sebelum Meninggal
Baca juga: Makna Upacara Melasti Sebelum Hari Raya Nyepi Bagi Umat Hindu Bali
Baca juga: Dulang Viral, Fungsi Dulang Sebagai Wadah Sesajen Bagi Umat Hindu di Bali
I Made Arik Wira Putra, Penekun Sastra di Kota Denpasar, memiliki pandangannya sendiri.
“Lahirnya cerita Pedanda Baka itu, sebenarnya mengajarkan kita untuk tidak menjadi ikan. Itu bukan sepenuhnya si cangak yang salah,” tegasnya kepada Tribun Bali, Jumat 19 Maret 2021.
Baginya, si ikan dalam kisah tersebut harusnya rajin belajar.
Seperti belajar ajaran agama, aturan, etika, kehidupan sosial dan sebagainya.
Ikan ini diibaratkan masyarakat, agar kian rajin belajar dan terhindar dari berita-berita hoax.
Layaknya yang diberitakan si cangak.
Ketika tokoh tersebut berdalih akan menyelamatkan ikan dari tangkapan para bendega.
“Sumber cerita ini sangat lama, dari cerita-cerita tantri yang perkembangannya ratusan tahun lalu,” jelasnya.
Itu artinya, kata dia, kasus demikian telah terjadi saat itu dan tidak hanya di era sekarang ini saja.
Sehingga perlu dilakukan tata cara kembali, khususnya bagian etika dan itu menjadi PR semua masyarakat Hindu khususnya di Bali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-hindu-bali-sembahyang-1.jpg)