Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Kabar Duka, Imam Sulung Asal Bali Romo Subhaga Telah Pergi

Pater Sevasius Subhaga,SVD atau yang akrab disapa Romo Subhaga meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wangaya Denpasar.

Penulis: DionDBPutra | Editor: Eviera Paramita Sandi
Istimewa
Pater Sevasius Subhaga,SVD atau yang akrab disapa Romo Subhaga 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Hari Senin dini hari 5 April 2021, imam sulung asal Bali sekaligus imam pertama Keuskupan Denpasar mengakhiri semua pengabdiannya di dunia ini.

Pater Sevasius Subhaga,SVD atau yang akrab disapa Romo Subhaga meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wangaya Denpasar.

"Kepergiannya beberapa jam setelah perayaan Paskah kebangkitan Tuhan meninggalkan duka mendalam dari umat paroki Santo Yoseph Denpasar," kata Agust G Thuru, ketua seksi Komsos Paroki St. Yoseph Denpasar dalam catatan kenangan (in memoriam) yang diterima Tribun Bali, Senin siang 5 April 2021.

Agust G Thuru adalah juga penulis Buku "Kenangan 50 Tahun Imamat Pater Servas Subhaga,SVD."

Berikut catatan Agust G Thuru mengenang Romo Subhaga yang dia izinkan dipublikasikan Tribun Bali.

Lahir di Tuka 23 Maret 1938 dari pasutri ibu Ni Made Rente dan bapak I Wayan Gulis, Pater Servas seolah dikehendaki Tuhan menjadi “anak sulung” di ladang panggilan imamat.

Kisah kelahiran Pater Servas pun membuat kita terhentak sebab ternyata Pater Servas harus “dibuang” agar tetap hidup.

Dan justru Tuhan memungut dan menjadikannya anak sulung di ladang anggur Keuskupan Denpasar (Bali-NTB).

Kisah yang benar-benar terjadi, pasutri ibu Ni Made Rente dan bapak I Wayan Gulis dikaruniakan anak pertama namun meninggal dunia. Anak kedua juga meninggal dunia.

Pasutri ibu Ni Made Rente dan bapak I Wayan Gulis bingung menghadapi “misteri kasih karunia Tuhan” ini.

Ketika ada tanda-tanda akan lahir anak ketiga, pasutri ibu Ni Made Rente dan bapak I Wayan Gulis bertanya kepada orang pintar, bagaimana nasib anak ketiga yang akan segera lahir.

Jawaban “kenabian” pun didapatkan yakni anakmu yang ketiga juga akan mati setelah lahir kalau tidak diruat dengan upacara besar atau dipuput oleh seorang pedanda.

Upacara semacam itu memerlukan dana yang besar.

Pasutri Ni Made Rente dan I Nyoman Gulis menyampaikan kekhawatiran mereka pada tetangga yang sudah katolik yakni Pan Paulus atau I Made Tangkeng.

Pan Paulus menyarankan agar secara adat membuang anak yang dilahirkan di perempatan jalan agar Tuhan memungut sebagai anak-Nya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved