Breaking News:

Makna Hari Raya Galungan yang Akan Dirayakan di Bali Dalam Beberapa Hari Kedepan

Pentingnya Galungan, bagi umat Hindu di Bali karena banyak hal dan kepercayaan sejak dahulu kala.

Tribun Bali / Rizal Fanany
Sejumlah penjor berukuran besar terpasang di Kawasan Munggu,saat hari raya Galungan dan Kuningan, Rabu (30/5/2018). 

Maka dari itu, setiap pertemuan antara Buda dan Kliwon dianggap sebagai hari yang 'istimewa' oleh orang Hindu di Bali. Seperti Buda Kliwon Sinta (Pagerwesi), Buda Kliwon Pahang (Pegatwakan), dan lain sebagainya.

"Bila dilihat dari rangkaian hari-hari menjelang Galungan. Mulai dari Tumpek Wariga hingga hari penampahan tampak betapa sakralnya perayaan Galungan ini," sebut dosen ini. Dan perayaan Galungan baru dianggap berakhir pada hari Buda Kliwon Pahang, 42 hari setelah Galungan.

Tradisi Perayaan Galungan di Bali, kata dia, paling tidak sudah berusia 1000 tahun atau satu milenial.

Tradisi ini berkembang terus-menerus hingga kini.

Sejumlah lontar semisal Sundarigama, Usana Bali, serta Sri Jaya Kesunu.

Diantaranya ada menyebutkan tentang latar belakang sejarah dan juga filosofis makna, serta tujuan perayaan Hari Raya Galungan.

"Bagi masyarakat awam, pada umumnya Hari Raya Galungan dianggap sebagai perayaan hari kemenangan Dharma melawan Adharma," katanya.

Sebab pada hari Galungan ini, roh para leluhur yang telah disucikan turun dari alam kadewataan dan beliau berkenan berstana di merajan atau sanggah keturunannya masing-masing.

Bahkan ada juga yg mengaitkannya dgn perayaan yang sama di India.

"Meskipun hari raya Galungan sudah berusia hampir seribu tahun, namun hingga kini belum ada sebuah buku yang cukup komprehensif dan mendalam menjelaskan sejarah, filosofi, dan makna hari raya Galungan ini," ungkapnya.

Halaman
123
Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved