Serba Serbi
Bhuta Galungan, Ini Makna Penampahan Hingga Galungan
Hari ini, Minggu (Redite) Paing Wuku Dungulan, memiliki makna tersendiri dalam Hindu Bali.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Yang dilaksanakan di perempatan desa, segala bentuk dan tingkatan upacara diperbolehkan.
Namun tentunya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Mulai pada tingkat nista, madia, hingga utama.
"Upacara itu dipimpin oleh pendeta, baik pendeta Siwa maupun pendeta Budha," sebut dosen Fakultas Ilmu Budaya Unud ini.
Pada hari itu, segala jenis senjata peperangan wajib dibuatkan upacara untuk mendoakan munculnya kekuatan dan keampuhan pada senjata tersebut.
Terutama dibuatkan sesajen prayascita dan dipimpin pendeta.
Agar senjata itu benar-benar ampuh di medan perang.
Perlu dibuatkan upacara persembahan kepada bhuta kala atau caru di setiap rumah.
Berupa segehan warna 3 tanding, formasinya diatur menurut neptu.
Yaitu putih neptunya 5, merah neptunya 9, kuning neptunya 7, hitam neptunya 4, dan campuran lima warna neptunya 8.
"Lauknya berupa daging babi," sebutnya.
Sesajen itu juga dilengkapi dengan segehan agung satu tanding.
Adapun tempat melakukan upacara caru tersebut adalah di halaman rumah, halaman sanggah, ataupun jalan keluar masuk perumahan.
Dengan cara memanggil Sang Bhuta Galungan.
Suami-istri patut melakukan upacara byakala dan prayascita.
"Bagi suami wajib ngayah sesajen sasayut sambil memusatkan batin dan melapalkan doa untuk memohon keperkasaan dan kekebalan," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-hindu-bali-sembahyang-1.jpg)