Serba Serbi
Bhuta Galungan, Ini Makna Penampahan Hingga Galungan
Hari ini, Minggu (Redite) Paing Wuku Dungulan, memiliki makna tersendiri dalam Hindu Bali.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Mengenakan busana perang, baik dalam wujud nyata (sekala), maupun tidak nyata (niskala).
Pahalanya adalah perkasa dan menang dalam peperangan.
Kemudian setelah itu, pada Rabu Kliwon Dungulan dinamakan Galungan.
Ini bermakna bangkitnya kesadaran, titik pemusatan batin yang terang benderang.
Melenyapkan segala bentuk kegalauan batin, dengan cara mempersembahkan sesajen kepada para dewa di sanggah dan parhyangan.
Di atas tempat tidur, di halaman rumah, di lumbung, di dapur, di jalan keluar masuk perumahan, di tumbal, di tugu, di hulu kuburan, di hulu desa, di hulu sawah, di hutan, di gunung, di lautan, termasuk di segala jenis perabotan rumah tangga.
Semua dibuatkan sesajen.
Adapun sesajen yang patut dipersembahkan di sanggah.
Baik dalam tingkatan besar ataupun kecil.
Terdiri atas tumpeng panyaag, penek, wawakulan, canang raka, ajuman, sedah woh, kembang pahes, wangi-wangi, pasucian.
Sesajen yang patut dipersembahkan di parhyangan terdiri atas tumpeng pangambeyan, jerimpen, pajegan, sodahan beserta perlengkapannya.
Lauknya sate babi dan daging babi goreng.
Upacara itu dilaksanakan pada pagi hari, dilengkapi sarana persembahan lainnya.
Berupa bunga harum, dupa, kemenyan, dan astanggi.
Sesajen tersebut dibiarkan tetap berada di tempat-tempat pemujaan tersebut selama satu malam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-hindu-bali-sembahyang-1.jpg)