Breaking News:

Serba serbi

Makna Penjor Galungan dan Mengapa Dipasang Saat Penampahan? 

Saat penampahan Galungan, masyarakat Hindu, selain nampah (memotong hewan) yang umumnya babi, juga membuat penjor.

Penulis: Putu Supartika
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Tribun Bali/Rizal Fanany
ilustrasi foto tak terkait berita - Warga di kawasan Banjar Jambe, Desa Kerobokan, Kuta Utara, mulai memasang penjor menjelang Galungan, Selasa (25/12/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Saat penampahan Galungan, masyarakat Hindu, selain nampah (memotong hewan) yang umumnya babi, juga membuat penjor.

Penjor ini, dipasang saat penampahan Galungan atau sehari sebelum hari raya Galungan.

Akan tetapi, saat ini banyak orang yang memasang penjor sebelum penampahan dengan alasan kesibukan saat penampahan tidak sempat membuat penjor ataupun karena terbatasnya tenaga untuk membuat penjor ini.

Lalu apa sebenarnya makna, mengapa penjor dipasang saat penampahan Galungan?

Baca juga: Kenapa Memotong Babi Saat Penampahan Galungan?

Baca juga: Harga Daging Babi di Bali Jelang Galungan Melonjak Tajam, Peternak: Itu Permainan Tengkulak

Menurut Dosen Bahasa Bali Unud yang juga pegiat lontar, Putu Eka Guna Yasa, penjor ini merupakan lambang Bhatara Mahadewa yang berstana di Gunung Agung atau Bhatara Siwa.

Dalam membuat penjor, adapun sarananya yaitu pala bungkah atau segala jenis umbi-umbian, pala gantung segala jenis yang tergantung seperti buah-buahan, palawija atau biji-bijian, bambu, kasa putih kuning, lamak.

Penjor tersebut ditancapkan di depan pintu masuk saat penampahan sore agar esoknya saat Galungan masih dalam keadaan segar. 

Baca juga: I Nyoman Suta Sebut Harga Bunga Pacar Air jelang Hari Raya Galungan di Badung Tembus Rp 125 Ribu/Kg

Baca juga: Pemerintah Kabupaten Gianyar Mengucapkan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

"Kenapa perlu kesegaran, karena kita meyakini leluhur datang ke pemerajan dan itu merupakan bentuk penghormatan secara sekala dan alangkah bagusnya warna kuning dan pitih dari janur dan ambu."

"Selain itu penjor ini juga berkaitan dengan upacara Dewa Yadnya sehingga apa yang dipersembahkan harus segar," kata Guna.

Selain itu, Guna juga mengatakan makna ambu atau busung yang digunakan dalam penjor karena warna putih dari ambu dan kuning dari janur agar ada warna galang (terang) saat merayakan kemenangan dharma melawan adharma

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved