Serba Serbi
Penampahan Galungan, Penetralisir Sang Kala Tiga
Dijelaskan dalam lontar Sundarigama, perayaan hari penampahan adalah simbol penetralisir kekuatan negatif Sang Hyang Kala Tiga pada tingkat utama.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Setelah itu, keesokan harinya pada Rabu (Buda) Kliwon Dungulan, baru dinamakan Galungan.
Umat Hindu meyakini bahwa hari Galungan para dewa dan roh leluhur turun ke dunia bertiga di berbagai tempat.
Seperti sanggah, pura, di halaman rumah, di lumbung, dapur, jalan masuk rumah, tugu, penghulu kuburan, penghulu desa.
Kemudian penghulu sawah, di lautan, hingga pegunungan.
Adapun sesajen persembahan untuk di sanggah terdiri dari tumpeng panyaag, penek wawakulan, canang raka, ajuman, sedah woh, kembang pahes, wangi-wangi dan pasucian.
"Sesajen persembahan untuk di pura terdiri atas tumpeng pangambeyan, jerimpen, pajegan, sodahan beserta perlengkapan lainnya," sebut dosen Fakultas Ilmu Budaya Unud ini.
Memakai lauk sate babi, daging babi goreng, dilengkapi dengan bunga-bunga, dupa, kemenyan, dan astanggi.
Lontar Sundarigama menyarankan bahwa sesajen yang dihaturkan pada saat Galungan, agar dibiarkan di tempat persembahyangan semalam.
Dan sesajen itu baru bisa ditarik pada keesokan harinya.
Setelah umat menyucikan diri lahir dan batin.
Dengan sembahyang di merajan atau sanggah masing-masing.(*).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-hindu-bali-sembahyang-1.jpg)