Berita Tabanan
Tradisi Nampah Kebo di Desa Pandak Gede Tabanan Bali Saat Hari Raya Galungan
tradisi ‘nampah kebo’ atau sembelih kerbau saat Hari Penampahan Galungan. Tradisi ini sudah dilakukan secara turun termurun.
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Noviana Windri
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Desa Pandak Gede adalah salah satu desa di Kecamatan Kediri, Tabanan.
Desa yang terletak berdekatan dengan Obyek Wisata Tanah Lot ini selalu menjunjung adat dan budaya warisan leluhur terdahulunya.
Tak terkecuali tradisi ‘nampah kebo’ atau sembelih kerbau saat Hari Penampahan Galungan.
Tradisi ini sudah dilakukan secara turun termurun.
Bahkan warga di desa ini menyebut jika tak nampah kebo, tak terasa Hari Raya Galungan.
Perbekel Pandak Gede, I Gusti Ketut Artayasa menuturkan, tradisi menyembelih hewan kerbau menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan rutin dilakukan secara turun temurun.
• Selama Hari Raya Galungan, Pelayanan SIM di Polresta Denpasar Bali Tutup Sementara
• Jelang Hari Raya Galungan, Dinas PKP Bangli Lakukan Pemeriksaan Babi Selama Dua Hari
• Hendak Dijual Saat Galungan-Kuningan, 10 Ekor Babi Milik Dek Lodek di Buleleng Raib Digondol Maling
Meskipun di tengah pandemi, warga tetap antusias untuk melestarikan tradisi ini.
Sebab, menurut warga Desa Pandak Gede tanpa daging kerbau, tidak akan terasa merayakan Hari Raya Galungan.
"Tidak ada perbedaan dengan situasi sebelumnya. Karena sesuai dengan semangat warga Pandak Gede, tanpa daging kebo gak terasa Galungan. Daging kebo juga kita peruntukan untuk banten atau upakara," kata pria yang akrab disapa Ngurah Bobby ini saat dikonfirmasi, Selasa 13 April 2021.
Rah Bobby melanjutkan, pada perayaan Galungan dan Kuningan saat ini, di desanya tersebut memotong enam ekor kerbau.
Kerbau biasanya didatangkan dari Tabanan dan juga Kabupaten Jembrana.
Bahkan harga per ekornya tak tanggung-tanggung, mencapai Rp 20-25 Juta.
Sebelum memotong kerbau, masyarakat yang hendak mendapatkan daging harus patungan dulu.
Biasanya warga membeli seharga Rp 300-350 ribu per jujulan (rumpun) daging.
Setelah disepakati, kerbau akan dipotong dan dibagi sesuai dengan jumlah jujulan.
"Per ekornya di harga Rp 20-25 juta. Sebelum motong kerbau, kita patungan dulu. Jadi ada yang beli Rp 300 ribu per jujulan dan ada 350 ribu per jujulan," ungkapnya.
Dia mengharapkan, dengan melestarikan tradisi warisan leluhur Bali ini semua warga bisa diberikan anugerah dan keselamatan dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
"Astungkara dengan pelestatian Kebudayaan dan Tradisi kita ini dibarengi dengan astiti bakti irage sareng sami. Dumogi Ida Sang Hyang Widhi Wasa ledang ngemetuang tur mapaica kerahajengan miwah kerahayuan ring sejeroning bhuana agung lan bhuana alit," harapnya.
• Guru PAUD di Karangasem Mengeluh, Insentif Belum Cair hingga Jelang Galungan
• Hari Raya Galungan di Bali, Vaksinasi Covid-19 di Denpasar Libur Mulai 13-15 April 2021
Untuk diketahui, tradisi nampah kebo sudah dilakukan secara turun temurun. Bahkan memiliki historis yang konon katanya saat leluhur hendak menggelar upacara yadnya sempat nampah sampi (menyemblih sapi).
Namun, ketika sapi tersebut sudah disembelih dan dibagi hingga dimasak sedemikian rupa oleh warga.
Warga yang sempat mengomsumsi daging sapi ini justru sakit. Mulai dari demam, sakit perut dan lainnya.
Sehingga setelah itu, untuk mengantisipasi menyemblih sapi, krama Pandak Gede pun menggantinya dengan nampah kebo atau mengomsumsi daging kerbau dengan maksud agar tak terjadi gal yang tak diinginkan di kemudian hari seperti sakit dan lainnya.
Dan tradisi ini masih dilakukan hingga sekarang.
Berita terkait Hari Raya Galungan di sini