Ngopi Santai
Kini Jadi Kenyataan Mendapatkan Daging Ayam Tanpa Menyembelih Ayam: 100% Ayam, 0% Pembunuhan
Singapura merupakan negara pertama dan satu-satunya di dunia yang otoritasnya, yakni Singapore Food Agency, telah menyetujui daging ayam artifisial.
TRIBUN-BALI.COM - Beberapa waktu belakangan, dunia kuliner dikejutkan oleh penjualan perdana menu berbahan daging ayam yang dikembangkan di laboratorium (lab-grown meat), yang dijual untuk pertama kali di dunia di sebuah restoran di Singapura.
Kehebohan sekaligus rasa penasaran atas daging artifisial ini kian luas, terutama setelah seorang konten kreator ternama dunia mengunggah pengalamannya mencicipi daging artifisial itu ke akun Facebook-nya pada 10 April 2021 lalu.
Singapura merupakan negara pertama dan satu-satunya di dunia yang otoritasnya, yakni Singapore Food Agency (semacam BPOM), telah menyetujui daging ayam lab atau populer disebut sebagai cultured meat (daging budidaya).
Pemerintah Singapura juga mengizinkan penjualan daging artifisial ini.
Media-media Singapura memberitakan, menu nugget dari daging ayam budidaya itu dijual oleh sebuah restoran kelas atas Singapura sejak akhir 2020 lalu. Saking eksklusifnya, resto itu tidak menerima kunjungan tamu umum kecuali hanya anggota (member).
Karena dikembangkan di laboratorium, daging budidaya ini memang tidak dihasilkan oleh peternakan ayam konvensional.
Jadi, tidak perlu ada lahan dan kandang peternakan. Bahkan, dalam daging budidaya itu tidak ada sama sekali ayam yang disembelih untuk dambil dagingnya.
Namun, harga daging itu masih mahal sekali. Diberitakan, untuk seporsi menu nugget seharga Rp 300.000.
“Tidak ada kekerasan dan pembunuhan (penyembelihan) terhadap hewan ternak,” demikian kata salah-satu pencicip daging budidaya di akun Facebook-nya.
Baca juga: Kisah Uang Berkaki Empat dan Pandemi
Seperti dikutip www.straitstimes.com, menurut Josh Tetrick (CEO perusahaan penghasil daging budidaya itu), harga daging tersebut saat ini masih tergolong selangit. Namun, ia meyakinkan bahwa rasanya sama lezat dengan daging nugget ayam konvensional yang dijual di restoran premium.
Tetrick mengatakan, daging ayam artifial itu akan diproduksi secara massal dan Singapura akan menjadi hub atau sentra-nya.
Jika produksinya makin banyak dan meningkat, kata Tetrick, maka skala ekonomi akan tercapai, sehingga harga daging artifisial akan bisa sama bahkan lebih murah dengan daging ayam ternak.
Tidak tertutup kemungkinan daging ini akan diekspor ke negara-negara tetangga Singapura. Sebab, sertifikasi halal atas daging ini juga termasuk dalam target.
“Harganya saat ini saja sebetulnya sudah sepertiga harganya setahun lalu. Dan misi kami memang menjadikan harga daging budidaya ini di bawah harga daging ayam konvensional dalam tahun-tahun mendatang,” kata Tetrick.
Kalau pikiran konvensional kita tentang daging selalu terkait dengan hewan (seperti ayam, kambing, sapi dan babi) yang disembelih, maka daging budidaya itu sama sekali berada di luar bayangan atau imajinasi pikiran konvensional tentang bagaimana daging berasal dan diperoleh selama ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/nugget-ayam.jpg)