Breaking News:

Penuhi Kebutuhan Lebaran? Anda Jangan sampai Tergiur Investasi Berbunga Tinggi

Alih-alih bisa memenuhi kebutuhan Lebaran, masyarakat justru bisa saja terjebak ke dalam jurang investasi tidak berizin atau ilegal.

TRIBUNNEWS.COM/FITRI WULANDARI
Peneliti senior sekaligus Ekonom Poltak Hotradero dalam agenda virtual bertajuk How Media & Insurance Face Covid-19 Challenges yang digelar Allianz Indonesia, Senin 14 Desember 2020. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Peneliti senior sekaligus ekonom Poltak Hotradero mengingatkan jika mau penuhi kebutuhan Lebaran, sebaiknya Anda jangan tergiur penawaran atau cara investasi yang berbunga tinggi.

Alih-alih bisa memenuhi kebutuhan Lebaran, masyarakat justru bisa saja terjebak ke dalam jurang investasi tidak berizin atau ilegal, yang kerap disebut investasi bodong.

"Tidak pernah ada investasi imbal hasil tinggi dengan risiko rendah. Imbal hasil tinggi hanya bisa dicapai lewat risiko tinggi pula, itu sudah menjadi hukum besi di dunia investasi," ujarnya melalui pesan singkat kepada Tribunnews, Jumat 16 April 2021.

Baca juga: Temui Korban Investasi Bodong SGB, Komisi VI DPR RI Minta Penyelesaian Dipercepat

Baca juga: 726 Warga Bali Jadi Korban Investasi Bodong, Kerugian Mencapai Rp 155 Miliar

Poltak Hotradero mengatakan, kebutuhan primer tetap harus menjadi prioritas untuk dipenuhi masyarakat jelang hari Lebaran.

"Tentunya kebutuhan primer, karena kebutuhan sekunder serta tersier hanya ada maknanya bila kebutuhan primer sudah terpenuhi terlebih dahulu. Kalau yang primer sudah terpenuhi maka yang sekunder bisa dijalankan," kata Poltak.

Selain itu, menurutnya, pemenuhan kebutuhan tersier lebih hanya bersifat pengakuan sosial, sehingga harganya menjadi mahal.

"Karena yang ingin dipenuhi sebenarnya aspek emosi. Membeli mobil baru misalnya, termasuk yang demikian, bila ternyata menyewa saja sudah cukup atau menggunakan mobil lama itu sebenarnya tidak bermasalah," tutur Poltak.

Informasi risiko

Hal senada dikatakan pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra. Menurut dia, investasi tidak berizin atau bodong cenderung menawarkan bunga tinggi dengan tidak memberikan informasi terkait risiko.

Karena itu, masyarakat yang terjerumus bukan mendapat keuntungan dari investasi, tapi justru malah buntung karena uangnya hilang.

"Imbal hasil tinggi pastinya risiko juga tinggi. Jadi, bila terkena risiko, bisa-bisa modal investasi berkurang jauh dan alih-alih untung malah buntung," ujarnya melalui pesan singkat kepada Tribunnews, Jumat 16 April 2021.

Lebih lanjut dipaparkan, tidak bijak juga untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, apalagi jelang Lebaran melalui investasi dengan imbal hasil tinggi.

"Ya kecuali investor tersebut memang investor profesional. Tentunya juga pemenuhan berdasarkan skala prioritas, kebutuhan primer yang mesti didahulukan," katanya.

Di sisi lain, dia menilai seharusnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bisa menyentuh entitas pemilik aplikasi bodong tersebut, bukan hanya penutupan aplikasi.

"OJK bisa melakukan penyelidikan siapa pemilik aplikasi tersebut dan melakukan penindakan. Jadi, tidak bermunculan web atau aplikasi beda nama, tapi sebenarnya dari entitas yang sama," tandas Ariston. (Tribunnews/Yanuar Riezqi Yovanda/tis)

Editor: DionDBPutra
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved