Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Tabanan

Kisah Ketut Imaduddin Mendirikan Pondok Pesantren Bali Bina Insani di Tabanan, Mengajarkan Toleransi

H. Ketut Imaduddin Jamal, mengaku dirinya berasal dari Desa Pegayaman. Desa unik, dengan tradisi keislaman dan kehinduannya

Tayang:
Penulis: Harun Ar Rasyid | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Tribun Bali/Harun Ar Rasyid
Kisah Ketut Imaduddin Mendirikan Pondok Pesantren Bali Bina Insani di Tabanan, Mengajarkan Toleransi 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Minggu 18 April 2021, Pondok Pesantren Bali Bina Insani mengadakan acara dengan tema ‘Ramadhan Berbagi Ma'had Bali Bina Insani dalam Hari Raya Galungan dan Kuningan’.

Bentuk kegiatan pada hari Minggu tersebut adalah memberikan bantuan kepada tetangga Pondok Pesantren Bali Bina Insani yang beragama Hindu.

Acara ini merupakan inisiasi langsung oleh pendiri Pondok Pesantren yaitu H. Ketut Imaduddin Jamal.

Ditemui pada acara tersebut, H. Ketut Imaduddin Jamal, mengaku dirinya adalah seorang warga yang berasal dari salah satu desa yang terkenal di Indonesia dengan akulturasi budaya antara Hindu dan Islam, yaitu Desa Pegayaman.

Baca juga: Kegiatan Ramadhan Berbagi, Pondok Pesantren Bali Bina Insani Memberikan Sumbangan ke Masyarakat

Baca juga: Masjid di Atas Awan di Karangasem, Berada di Ketinggian Sekitar 1.200 Meter di Atas Permukaan Laut

Baca juga: Masjid Baitul Makmur Denpasar Bagi-bagi Bubur Ramadhan Ala Malaysia dan Singapura Saat Berbuka Puasa

"Saya berasal dari desa terpencil, tapi cukup top di level nasional yaitu Desa Pegayaman. Mereka menilai bahwa desa itu unik, dengan tradisi keislaman dan kehinduannya, lalu hal tersebut menjadi akulturasi budaya"ucapnya.

Setelah mendirikan Pondok Pesantren di Desa Pegayaman, lalu ia merasa ingin mengembangkan Pondok Pesantren di wilayah sekitar Kerambitan, Tabanan, Bali.

Ia mengaku mendirikan Pondok Pesantren di Tabanan merupakan tantangan yang lebih berat.

Namun, Ia menyampaikan tantangan yang lebih berat tersebut membuat ia lebih bersemangat.

"Disini tantangannya lebih berat, sehingga saya lebih bersemangat, bukannya melemahkan saya, tantangan ini justru membuat saya lebih bersemangat, karena tanpa tantangan hidup ini akan hampa" ucapnya.

Lebih lanjut, ia juga membeberkan mengenai Pondok Pesantren Bali Bina Insani yang dinilai menarik oleh banyak orang.

Ia menjelaskan keunikan dari Ponpes yang ia dirikan tersebut adalah Ponpes yang ia dirikan berada di tengah-tengah masyarakat yang 100 persen beragama Hindu.

Ia juga menjelaskan, bahwa meskipun sekolah yang ia dirikan berbentuk pondok pesantren, tetapi sebagian guru di Ponpes ini beragama Hindu.

"Hampir 50:50, jika dipresentasikan mungkin agak turun, perbandingannya mungkin 60 persen guru Islam dan 40 persen guru yang beragama Hindu, disini mereka mengajar pada berbagai bidang,"ujarnya.

Ia juga menyampaikan, bahwa ia mempunyai Policy jika memang guru yang bersangkutan berprestasi, ia akan angkat menjadi Kepala Sekolah.

Bahkan saat ini Wakil Kepala Madarasah Aliyah (Sekolah Menengah Atas) dijabat oleh guru yang beragama Hindu.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved