Breaking News:

Rata-Rata Penyelam Bertahan di Kedalaman 100 Meter, Selebihnya Dapat Sebabkan Kerusakan Sel

Untuk penyelaman teknis atau penyelaman dengan alat semisal untuk keperluan arkeologi bawah laut, penyelam dapat mengarungi kedalaman hingga level 100

Tribun Bali/ I Nyoman Mahayasa
Peserta seawalker Sanur Village Festival jalan-jalan di dasar laut Pantai Sanur, Denpasar, Bali, Sabtu (27/8/2016). Selain menikmati indahnya terumbu karang di kedalaman 6-8 meter, mereka bercumbu dengan ribuan ikan warna-warni. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tingkat kedalaman air di lautan memiliki tekanan yang bervariasi, setiap 10 meter ke bawah tekanan akan bertambah 1 atmosfer (atm, - satuan tekanan).

Kelompok Ahli Gubernur Bali Bidang Kelautan dan Perikanan, I Ketut Sudiarta menjelaskan, bahwa rata-rata penyelam normal tanpa alat bantu hanya mampu bertahan di kedalaman 40 meter atau sekitar 4 atm.

Sebab, semakin dalam lautan semakin tinggi tekanan yang dialami oleh objek yang berada di dalamnya.

Sedangkan untuk penyelaman teknis atau penyelaman dengan alat semisal untuk keperluan arkeologi bawah laut, penyelam dapat mengarungi kedalaman hingga level 100 m atau 10 atm.

Baca juga: Jokowi Tegaskan Pencarian dan Penyelamatan Awak KRI Nanggala-402 Belum Berakhir

Sudiarta menyampaikan, kondisi penyelaman di di atas level kedalaman 100 meter dapat menyebabkan kerusakan sel organ tubuh hingga pecahnya paru-paru pada manusia.

"Semakin dalam kita menyelam maka tekanan sangat kuat, kalau kita menyelam, semakin dalam, tubuh manusia akan semakin dimampatkan," jelasnya kepada Tribun Bali belum lama ini.

"Penyelaman maksimum bisa sampai 100 meter tapi itu penyelaman teknis misal kegiatan penggalian arkeologi benda di dasar laut dengan alat khusus, kalau penyelaman umum atau penyelaman fun biasanya maksimal 40 meter itu pun dengan bawa 1 tabung oksigen," katanya.

Baca juga: Pakar Australia: Penyelam Sulit Jangkau KRI Nanggala-402 karena Tenggelam Terlalu Dalam

Rupanya, aktivitas menyelam di kedalaman lautan memiliki risiko yang fatal apabila tidak dilakukan sesuai dengan prosedur, penyelam bisa mengalami dekompresi, narcosis nitrogen, hingga toksositas oksigen.

"Dekompresi terjadi karena perubahan tekanan, misal naik dari kedalaman terlalu cepat, tubuh harus melakukan normalisasi tekanan, bisa terkena deko setiap 10 meter naik tubuh akan menyesuaikan tekanan, oleh sebab itu dalam penyelaman ada prosedur safety-nya untuk mencegah dekompresi," ujarnya.

Di samping itu, para penyelam juga wajib masuk ke dalam chamber untuk menormalkan kembali ruang tubuhnya, beberapa rumah sakit telah menyediakan chamber tersebut untuk menetralkan dekompresi yang dialami oleh penyelam karena di dalam tubuh masih ada gelembung dari nitrogen dalam darah yang bisa bereaksi kalau naik ke ketinggian.

Baca juga: Soroti Aksi Penyelamatan Dean Henderson yang Berujung Bobolnya Gawang Man United, Ini Kata Solskjaer

Sedangkan toksositas oksigen bisa terjadi karena oksigen yang digunakan oleh para penyelam bukan merupakan oksigen murni.

 Toksisitas oksigen adalah kondisi yang muncul akibat efek-efek berbahaya dari molekul oksigen pada tekanan parsial yang tinggi.

"Ada keracunan oksigen kalau menyelam artinya menghirup oksigen terlalu banyak, biasanya karena kegembiraan berlebih lupa sedang menyelam," ujarnya

"Kalau menyelam pasti akan ada yang dihirup bukan oksigen murni namun udara yang dimanfaatkan, kan kandungan nitrogennya tinggi, harus dinormalkan, habis menyelam tidak boleh berada di ketinggian, misal terbang, atau kalau nyelam di Buleleng tidak boleh kembali ke Denpasar lewat Bedugul tidak boleh di atas 1000 meter," papar pria yang aktif di dunia penyelaman itu. (*)

Penulis: Adrian Amurwonegoro
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved