Breaking News:

Berita Bali

Diskusi Pasraman Air: Pemanfaatan Air Tanah di Bali di Atas 70 Persen, Terutama Bali Selatan

Krisis air adalah ancaman yang amat nyata di Bali, kendati demikian kesadaran masyarakat atas hal itu masih terbatas. 

Istimewa
Diskusi yang digelar Pasraman Air, Kerobokan, Kuta, Bali 26 April 2021 hingga 2 Mei 2021. Kegiatan ini mengambil tema Aji Toya 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Selama sepekan terhitung sejak Senin 26 April 2021 hingga Minggu 2 Mei 2021 bertempat di Geo Open Space, Kerobokan, Kuta, Badung, Bali, digelar diskusi mengenai pentingnya kesadaran dan akan air bersih dan cara untuk terus mempertahankannya.

Acara ini digelar oleh Pasraman Air dengan mengangkat tema Aji Toya yang hadir sebagai upaya penyadaran pentingnya di Bali. 

Aji Toya dalam bahasa Bali terdiri dari kata aji yang dapat berarti ‘ayah’, ‘ajaran’, juga dapat merujuk kata sifat untuk sesuatu yang berharga sekali dan dianggap keramat. 

Baca juga: Direbut Perusahaan Minuman Kemasan dan PDAM, Subak di Bali Alami Krisis Air Irigasi

Sementara itu, kata toya berarti air atau daya.

Hal ini digelar karena krisis air adalah ancaman yang amat nyata di Bali, kendati demikian kesadaran masyarakat atas hal itu masih terbatas. 

"Krisis air menjadi ancaman sekaligus tantangan, sampai hari ini kita belum bisa melakukan tindakan nyata untuk menjawab tantangan itu, karena masyarakat masih terlena menganggap Bali masih punya air," kata Wayan Robi salah satu perwakilan dari Pasraman Air.

Baca juga: PMI Karangasem Distribusikan Air Bersih ke Pedahan Klod

Sebagai wilayah yang sangat bergantung dengan industri pariwisata, segala kebijakan pemerintah selalu didesain berada atas kepentingan industri di sektor itu. 

Akibatnya, pertumbuhan pariwisata berjalan beriringan dengan kerusakan lingkungan baik di hulu maupun di hilir. 

Padahal, kata Robi jika membahas ketersediaan air yang bersih atau berkualitas, secara nyata Bali sangat terancam. 

"Kini secara nampak bisa kita lihat kualitas air danau-danau di Bali menurun akibat penggunaan pestisida secara serampangan dan masif untuk mengelola perkebunan, hingga deforestasi (penggundulan hutan)," katanya.

Baca juga: 21 Banjar di Karangasem Usulkan Bantuan Air Bersih ke PMI

Halaman
12
Penulis: Putu Supartika
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved