Breaking News:

Direbut Perusahaan Minuman Kemasan dan PDAM, Subak di Bali Alami Krisis Air Irigasi

Subak Mundeh di Desa Buwit, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan misalnya, sedari dulu telah mengalami kesulitan air untuk lahan pertaniannya.

Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud), I Wayan Windia dan akademisi Fakultas Hukum Unud, Anak Agung Gede Oka Parwata menjadi narasumber dalam diskusi bertajuk "Subak Sebagai Warisan Budaya Dunia Apa Kabar?" di Kampus Unud Sudirman, Denpasar, Minggu (15/11/2020). Diskusi ini lahir atas kolaborasi antara Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian dengan BEM Fakultas Hukum Unud 

Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kondisi pertanian Bali, khususnya subak, nampaknya mengalami tantangan yang cukup besar.

Selain digempur dengan alih fungsi lahan dan sebagainya, subak kini juga dihadapkan dengan krisis air untuk.

Subak Mundeh di Desa Buwit, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan misalnya, sedari dulu telah mengalami kesulitan air untuk lahan pertaniannya.

Meski sedang mengalami kesulitan air, petani setempat masih terus berupaya menanam padi dan upaya itu dilakukan dengan cara bergiliran.

Baca juga: BNN Provinsi Bali Musnahkan Barang Bukti 90 Gram Sabu dan Ganja Seberat 859,42 Gram

Baca juga: Rumah Nyoman Rencana Ambruk Diterjang Angin Kencang, Kerugian Belasan Juta Rupiah

Baca juga: Gadis 17 Tahun Ditemukan Tewas di Kamar Hotel, Jasadnya Dibungkus Selimut

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud), Ni Wayan Mutia Dewi Artawati mengungkapkan, sejak dahulu petani di Subak Mundeh telah mengalami kesulitan air.

 "Pas saya masih kecil sudah kayak gitu, sudah seret. Kalau ada air langsung dah cepat-cepat petaninya nanam padi," tutur Mutia saat ditemui Tribun Bali usai mengikuti diskusi bertajuk "Subak Sebagai Warisan Budaya Dunia Apa Kabar?" di Kampus Unud Sudirman, Denpasar, Minggu (15/11/2020).

Mutia mengungkapkan Subak Buwit sendiri sebenarnya mempunyai sistem pinjam meminjam air.

Namun sayangnya, di tengah krisis air yang dialami petani setempat, hal itu tidak bisa dilakukan.

"Bagaimana kita bisa menerapkan sistem itu sedangkan kita kekurangan air. Karena petani di sana terjepit, mau tidak mau banyak juga yang menjual lahannya," kata Mutia.

Halaman
123
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved