Kepausan

Kilas Sejarah 13 Mei: Upaya Pembunuhan Terhadap Paus Yohanes Paulus II di Vatikan

Saat menyapa umat Katolik yang memadati Lapangan Santo Petrus Vatikan, Sri Paus ditembak sebanyak empat kali dan roboh.

Editor: DionDBPutra
AFP/GETTY IMAGES via KOMPAS.COM
Paus Yohanes Paulus II bertemu dengan Mehmet Ali Agca, pria yang mencoba membunuhnya, di sebuah penjara di Italia pada tahun 1983. 

TRIBUN-BALI.COM - Hari ini 13 Mei 2021 ada catatan sejarah yang menarik dikenang. Pada 13 Mei tahun 1981, terjadi upaya pembunuhan terhadap Paus Yohanes Paulus II di Vatikan.

Saat menyapa umat Katolik yang memadati Lapangan Santo Petrus Vatikan, Sri Paus ditembak sebanyak empat kali dan roboh.

Wajah Paus asal Polandia itu pucat, hidupnya berada di ujung tanduk.

Umat Katolik yang awalnya bersorak sorai, berubah menjerit dan menagis ketika mobil kepausan (Popemobile) membawa Paus Yohanes Paulus II ke rumah sakit.

Baca juga: Paus Fransiskus Beatifikasi Jose Gregorio Hernandez, Dokter yang Berjasa Saat Pandemi Flu Spanyol

Baca juga: Paus Fransiskus Minta Doa Sebulan Penuh agar Covid-19 Lekas Berakhir, Kondisi India Makin Genting

Paus Yohanes Paulus II yang memimpin Gereja Katolik sedunia sejak 1978 sampai kematiannya tahun 2005, kehilangan tiga perempat darah dalam upaya pembunuhan tersebut.

The Sun Kamis 13 Mei 2021 melaporkan, Paus Yohanes Paulus II menjalani operasi selama lima jam, dan selamat dari maut.

Namun, hal yang membuatnya makin dihormati di seluruh dunia adalah Sri Paus memaafkan calon pembunuhnya, Mehmet Ali Agca.

Agca, kini hidup tenang mengurusi kucing liar di rumahnya di Istanbul, Turki, menyebut Sri Paus sebagai saudara.

Tembak empat kali

Sesaat setelah Paus memasuki Lapangan Santo Petrus, Agca menembak sebanyak empat kali. Dua mengenai perut, satu di tangan kiri, dan sisanya di lengan kanan.

Kepanikan menjalar dalam penembakan yang terjadi pada 13 Mei 1981 pukul 17.15 waktu Roma.

Dua tahun sebelum mengeksekusi rencananya, Agca menyebut Paus sebagai "pemimpin bertopeng para tentara Salib".

Saat itu, Agca menyatakan dia akan membunuh Paus dengan nama asli Karol Jozef Wojtya jika kunjungan ke Turki tetap digelar.

Agca kabur dari penjara setelah membunuh jurnalis Abdi Ipekci tahun 1979. Agustus 1980, dia menyeberang ke Mediterania dan mengganti identitasnya.

Sebelum penembakan Paus di Vatikan, Agca sempat bertemu dengan tiga komplotannya di Roma, dan naik kereta ke Milan pada 10 Mei 1981.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved