Berita Bali
Wisata Medis Terkendala Pada Harga yang Dinilai Cukup Tinggi, Begini Saran dr. Fajar
Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Wilayah Bali menuturkan, selain pada promosi, pemerintah Indonesia juga harus memperhatikan harga yang ditawarkan
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Laporan Wartawan, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Wilayah Bali, Dr.dr.I.B.G Fajar Manuaba, SpOG, Mars menuturkan, selain pada promosi, pemerintah Indonesia juga harus memperhatikan harga yang ditawarkan untuk wisatawan domestik yang ingin melakukan wisata medis di Bali.
Menurutnya pemerintah harus focus mengkhususkan siapa sasaran dari wisata medis ini.
“Sasarannya sebetulnya siapa ? Sasaran yang diinginkan orang untuk datang khusus berobat ke Bali kan? Bukan kebetulan di Bali lantas sakit. Kalau kebetulan sakit dan ada di Bali Travel Medicine namanya, kalau wisata medis kan kaitannya untuk datang khusus mencari ahli di Bali,” terangnya, Senin 17 Mei 2021.
Lebih lanjutnya ia mengatakan, kemudian muncullah suatu kendala, yakni di mana pada saat ini IDI mengusulkan dan bertanya-tanya mengapa wisata medis di Indonesia tidak bisa berkembang.
Baca juga: Ini Berbagai Hal yang Harus Dibenahi Pemerintah Untuk Kegiatan Wisata Medis di Bali
Dan menurutnya hal tersebut dikarenakan barang yang sama dengan luar negeri terkena PPN, sehingga terdapat biaya masuk, yang membuat obat-obatan di Indonesia kalah jauh dengan luar negeri.
“Sehingga harganya kita kalah. Makanya contoh saja kenapa di Penang harga program bayi tabung lebih murah dibandingkan Indonesia? Makanya di Medan orang lebih suka bayi tabung di Penang. Karena dekat, bisa sambal jalan-jalan, kemudian harga lebih murah. Dan memang ternyata ada permainan subsidi didalamnya Malaysia itu. Jadi kan memang keuntungan PPN di Malaysia otomatis mengecil, termasuk harganya juga turun, tapi kan dengan orang berkunjung ke Malaysia tidak hanya berobat, sorenya bisa jalan-jalan, paginya juga jalan-jalan, semua itu sambil dia berobat. Dampak tidak langsung itulah yang harus dipikirkan oleh pemerintah,” tambahnya.
Dr. Fajar juga turut ingatkan pada pemerintah untuk jangan hanya pada satu sisi saja yakni mendapatkan pajak pertambahan nilai kemudian, setelah barang masuk dan hal itu yang menjadi kendala kedepannya.
“Nanti kan pengembangan alat diagnostic dan alat medis kita menjadi terkendala karena biaya belanja mahal. Wajarlah Singapura akan tetap dapat alat-alat medis terbaru ya karena pemerintah ikut bermain. Kalau memang serius mau kembangkan wisata medis tidak cukup dengan SDM nya juga keringanan-keringanan itu harus muncul. Karena prosesnya kan dari hulu ke hilir, kalau hulunya memang sudah menjadi bisnis biaya tinggi bagaimana kita bisa menjual murah,” imbuhnya.
Ini Berbagai Hal yang Harus Dibenahi Pemerintah Untuk Kegiatan Wisata Medis di Bali
Sebelumnya Menko Maritim dan Investasi, Luhut Pandjaitan serta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno gencar melakukan kampanye terkait Pulau Dewata yang akan digagas untuk menjadi tujuan sentra wisata medis.
Dan rencananya untuk di Bali sendiri akan ada tiga rumah sakit yang menjadi tujuan wisata medis.
Salah satunya adalah RSUP Sanglah Denpasar, dan berbagai persiapan pun telah dilakukan oleh RSUP Sanglah.
Namun ternyata tidak mudah untuk membuka sektor wisata medis di Indonesia khususnya di Bali.
Hal tersebut disampaikan oleh Dr.dr.I.B.G Fajar Manuaba, SpOG, Mars yang selaku Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Wilayah Bali.
Baca juga: Persiapan Wisata Medis di RSUP Sanglah Denpasar, Masih Lengkapi Beberapa Alat Medis
Menurutnya, wisata medis sebetulnya bukanlah suatu hal yang baru.
“Sebetulnya wisata medis bukan sesuatu yang baru. Beberapa rumah sakit bahkan sudah menjalankan sebelum Covid-19. Kemudian setelah Covid-19 terkendala dengan larangan bepergian ke luar negeri. Sehingga pasien asing hampir kosong,” ungkapnya, Senin 17 Mei 2021.
Lebih lanjutnya ia mengatakan, dan selama ini, yang berobat di Bali merupakan ekspatriat atau orang yang kebetulan ada di Bali.
Sementara yang diharapkan dari wisata medis adalah orang sakit tapi yang ingin melakukan pengobatan ke Indonesia khususnya ke Bali sambal berwisata.
”Jadi selama ini yang berobat itu ekspatriat yang kebetulan ada di Bali. Yang diharapkan wisata medis itu orang sakit tapi yang ingin melakukan pengobatan ke Indonesia khususnya di Bali, kemudian kenyataannya tidak demikian,” tambahnya.
Menurut dr. Fajar, selama ini banyak artis dan pejabat jika melakukan pengobatan selalu pergi ke luar negeri yakni seperti ke Singapura.
Dan menurutnya hal tersebut kurang tepat juga karena dapat memberikan contoh kepada masyarakat.
Selain itu, terdapat beberapa hal lagi yang harus dibenahi oleh pemerintah jika ingin membuka wisata medis di Indonesia.
“Kita sendiri tahu, bahwa pejabat dan artis itu kan kalau berobat ke Singapura. Kan itu dapat menjadi kontra produktifnya. Di satu sisi kita kembangkan wisata medis tapi kalau berobat vulgar sekali di media seperti ke Singapura artinya kan memberikan contoh yang kurang tepat juga. Kalau ingin kita promo mari kita promo berbarengan. Itu masalah pertama kalau mau buat wisata medis promonya harus konsisten baik dari masyarakat, pemerintah dan termasuk artis juga,” terangnya. (*).
Baca juga: Bali Disiapkan Sebagai Wisata Medis, Erick Thohir Sebut Akan Kerjasama dengan Perusahaan Jepang
Kumpulan Artikel Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/drdribg-fajar-manuaba-spog-mars-selaku-ketua-asosiasi-rumah-sakit-swasta-wilayah-bali.jpg)