Breaking News:

Berita Bali

Memaknai Tumpek Krulut: Gambelan, Kasih Sayang, hingga Pemujaan Kepada Bhatara Iswara

Memaknai Tumpek Krulut: Gambelan, Kasih Sayang, hingga Pemujaan Kepada Bhatara Iswara

Penulis: Putu Supartika | Editor: Widyartha Suryawan
Tribun Bali / I Wayan Erwin Widyaswara
Ilustrasi - Anak-anak memainkan Gender Wayang - Memaknai Tumpek Krulut: Gambelan, Kasih Sayang, hingga Pemujaan Kepada Bhatara Iswara 

"Jangan sampai nanti merayakan Tumpek Krulut orang Bali malah nukar jaja iwel, seperti menukar coklat saat valentine," katanya.

Tumpek Krulut

Nah, di bawah ini merupakan arsip artikel Tribun Bali tahun 2016 tentang Tumpek Krulut yang masih relevan untuk dibaca.

Artikel di bawah ini telah dimuat di Harian Tribun Bali dalam rubrik Dharma Wacana.

Berikut pemaknaan Tumpek Krulut menurut Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda.

Sulinggih, Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda.
Sulinggih, Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda. (Tribun Bali/Ida Ayu Made Sadnyari)

Tumpek merupakan perwujudan dalam menghormati infrastruktur yang menyertai manusia dalam rangka meraih tujuan.

Seperti Tumpek Wariga, di mana umat Hindu di Bali menghaturkan sesajen pada tumbuh-tumbuhan sebagai rasa syukur manusia terhadap kelimpahan makanan dan banyak fungsi dari tumbuhan yang membantu manusia.

Nah, sekarang ada juga Tumpek Krulut.

Kalau berbicara mengenai Tumpek Krulut, berarti kita berbicara masalah lulut atau dalam bahasa umum artinya cinta atau love.

Di mana tumpek ini jatuh setiap enam bulan sekali, yakni Sabtu, Kliwon, Wuku Krulut.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved