Breaking News:

Berita Bali

Memaknai Tumpek Krulut: Gambelan, Kasih Sayang, hingga Pemujaan Kepada Bhatara Iswara

Memaknai Tumpek Krulut: Gambelan, Kasih Sayang, hingga Pemujaan Kepada Bhatara Iswara

Penulis: Putu Supartika | Editor: Widyartha Suryawan
Tribun Bali / I Wayan Erwin Widyaswara
Ilustrasi - Anak-anak memainkan Gender Wayang - Memaknai Tumpek Krulut: Gambelan, Kasih Sayang, hingga Pemujaan Kepada Bhatara Iswara 

Tumpek Krulut menurut teks Aji Gurnitha, disebutkan bahwa hari yang tepat untuk mengupacarai gambelan.

Lalu bagaimana hari penyucian gambelan ini bisa dikaitkan dengan hari kasih sayang?

Sejatinya hal ini berkaitan dengan pemaknaan.

Gambelan itu terdiri dari banyak instrumen. Meski berbeda-beda suara, namun ketika dipukul bersamaan sesuai fungsinya, maka akan melahirkan satu melodi atau alunan musik yang indah.

Hidup manusia ini sebenarnya tidak ubahnya seperti gambelan dalam pementasan.

Di mana setiap orang memiliki peranannya masing-masing, yang bertujuan untuk melengkapi satu sama lain.

Bukan untuk merusak satu sama lain.

Jadi untuk menjalin hubungan harmonis dengan sesama manusia, maka di situlah kita harus menjadi gambelan.

Kita meski tahu kedudukan kita. Dari kedudukan itu kita akan melaksanakan fungsi kita sehingga dengan demikian kita melengkapi satu sama lainnya untuk mewujudkan satu bunyi yang harmoni.

Titilaras atau nada suara gambelaan Bali adalah ndang, nding, ndung, ndeng, ndong.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved