Serba Serbi
Sekilas Sejarah Hayam Wuruk dan Runtuhnya Kerajaan Majapahit
Dijelaskan Prof. Dr. Drs. A A Bagus Wirawan, S.U. bahwa di dalam kekuasaan Raja Hayam Wuruk lah, Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya atau
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
Laporan Wartawan Tribun Bali Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya, dan beliau dijadikan raja pertama tahun 1293 Masehi. Selanjutnya pada tahun 1309, digantikan oleh Raja Jaya Negara.
Setelah itu dilanjutkan Raja Hayam Wuruk, yang bertahta selama 39 tahun. Lalu berakhir pada tahun 1388 Masehi.
Dijelaskan Prof. Dr. Drs. A A Bagus Wirawan, S.U. bahwa di dalam kekuasaan Raja Hayam Wuruk lah, Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya atau keemasannya.
Dengan peran besar Maha Patih Amengku Bumi Gajah Mada.
Baca juga: Salah Kaprah Sugihan Jawa Hanya Dirayakan oleh Orang Bali Keturunan Majapahit, Begini Penjelasannya
Dimana Gajah Mada, terkenal dengan sumpah Palapanya. Sumpah ini konon diikrarkan tatkala Ratu Tribuana Tungga Dewi berkuasa.
"Kala itu, terkenal Mpu Prapanca, yang menulis perjalanan Hayam Wuruk ke daerah-daerah. Kemudian ditulis ke dalam kitab atau lontar Negarakertagama," jelas Dosen Sejarah Unud ini, kepada Tribun Bali, Minggu 30 Mei 2021.
Negarakertagama ini, kata dia, menguraikan tentang kebesaran Majapahit.
Hanya saja, setelah masa keemasan ini, Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran.
Dimana menurut catatan-catatan pararaton, babad, prasasti dan lain sebagainya disebabkan banyak hal.
Diantaranya karena perebutan kekuasaan oleh para ahli warisnya. Sehingga penuh dengan peperangan.
Disebutkan bahwa pengganti Raja Hayam Wuruk, adalah Wikrama Wardana pada tahun 1389. Kemudian diganti Ratu Suhita pada tahun 1429.
Dan diganti Kerthawijaya pada 1447. Lalu Rajasa Wardana pada tahun 1451 hingga tahun 1453 Masehi.
Selanjutnya, pada tahun 1453 sampai 1456 tidak ada raja, sebab pewarisnya konon masih sangat muda.
Sehingga diperkirakan pada tahun 1453 Masehi itu, telah mulai terjadi perebutan kekuasaan. Dan stagnan bertahan selama 3 tahun.
Baca juga: Pura Maospahit, Saksi Bisu Jejak-jejak Keberadaan Majapahit di Bali