Berita Kesehatan
Umur Berapa Bayi Boleh Disapih? Berikut Penjelasannya
Gek Wulan Mahaswari selaku Konselor Menyusui serta Ketua Aimi (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Cabang Provinsi Bali menjelaskan pada umur berapa bayi
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Gek Wulan Mahaswari selaku Konselor Menyusui serta Ketua Aimi (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Cabang Provinsi Bali menjelaskan pada umur berapa bayi boleh disapih.
"Kalau rekomendasi dari WHO itu, ada IMD (Inisiasi Menyusui Dini) mengapa menyusui dini?"
"Jadi anaknya yang akan merangkak mencari payudara ibunya untuk menyusui, lalu juga ada ASI Eksklusif jadi untuk bayi baru lahir hingga 6 bulan hanya ASI saja tidak ada tambahan lain seperti air putih, makanan lain belum boleh," paparnya pada, Rabu 2 Juni 2021.
Baca juga: Kenali Prolaktin dan Oksitosin, Hormon yang Pengaruhi ASI pada Ibu Menyusui
Sementara itu mulai enam bulan dinamakan dengan ASI berkualitas, jadi pada ibu nantinya akan membuat MPASI rumahan.
Setelah itu ASI boleh diberhentikan minimal usia bayi sudah dua tahun.
Kalaupun ingin dilanjutkan tidak masalah, hanya saja kebutuhan anak setelah dua tahun tidak hanya dari ASI.
"Jadi sudah makanan biasa seperti kita. Kalau usianya dari 0 hingga 6 bulan 100 persen ASI."
Baca juga: Bagi Ibu Menyusui, Coba Tips Berikut Ini Jika Hasil ASI Perah Sedikit
"Kalau 6 bulan sampai 1 tahun itu perbandingannya 60 atau 40 persen ASI."
"Setelah itu dengan makanan dan setelah umur dua tahun boleh disapih ketika si anak dan ibu sudah siap. Jika ibu dan anak belum siap boleh melanjutkan ASI nya," tambahnya.
Ada terdapat salah satu penelitian ketika anak lebih lama melakukan ASI maka akan mencegah risiko kanker serta dapat membuat hubungan antara bayi dengan si ibu semakin dekat.
"Jadi tidak ada istilah ASI itu expired hanya saja kebutuhan bayi setelah dua tahun itu berbeda. Sudah bukan susu lagi, tapi dari makanan," tambahnya.
Baca juga: 531 Nakes di Klungkung Belum Vaksin Covid-19, Alami Penyakit Penyerta hingga Masih Menyusui
Hormon
Selama ini sudah banyak beredar mitos terkait ASI di kalangan masyarakat.
Misalnya, ibu yang makan pedas membuat bayi diare.
Namun ternyata mitos tersebut tidak sepenuhnya benar.
Seperti yang dikatakan oleh, Gek Wulan Mahaswari selaku Konselor Menyusui serta Ketua Aimi (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Cabang Provinsi Bali yang menjelaskan bahwa makanan dam minuman sebenarnya tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ASI.
Baca juga: Seorang Perawat Menyusui di RSUD Klungkung Terpapar Corona
"Sebenarnya dari makan dan minuman tidak berpengaruh signifikan terhadap ASI."
"Kalau kita sedang menjadi ibu menyusui, ada dua hormon yang mempengaruhi seperti hormon prolaktin dan oksitosin."
"Hormone Oksitosin biasanya disebut juga dengan hormon cinta, di mana misalkan kita dapat gaji itu merasakan happy, terutama wanita ketika dapat ke salon happy, nah itu yang mempengaruhi oksitosin," paparnya, Rabu 2 Juni 2021.
Karena itu, menurut wanita berusia 34 tahun ini, ibu menyusui harus bebas.
Dalam artian jangan sampai tertekan.
Contohnya, pada kasus ibu yang baru saja melahirkan dan akan menyusui ditanya apakah ASI-nya sudah keluar, jika ternyata belum, hal itu bisa menyebabkan si ibu stres.
Sementara untuk hormon prolaktin adalah kondisi di mana waktu tidak bisa dimanipulasi.
Contohnya bayi memang harus selalu menyusui dan mekanisme pada payudara begitu ia mengeluarkan ASI, payudara akan memproduksi semakin banyak ASI.
"Maka dari itu lakukan pemberian ASI sesering mungkin, jadi begitu ia keluar akan langsung diproduksi lagi."
"Jadi makanan dan minuman tidak signifikan berpengaruh, misalkan ibunya suka pete atau jengkol ya makan saja."
"Kalau ibunya suka makanan ini malah dilarang nantinya akan stres," imbuhnya.
Sementara untuk kepercayaan jika ibu menyusui mengonsumsi makanan pedas maka bayinya akan diare, menurutnya hal tersebut adalah mitos.
Memang apapun yang berlebihan itu tidak baik, boleh saja mengonsumsi makanan pedas, namun dalam batas ambang seseorang tertentu.
Mungkin saja pada saat ibu mengonsumsi pedas berlebihan perut bayi akan merasakan sedikit begah.
"Boleh saja mengonsumsi pedas asal tidak kelewatan saja. Selain itu jika ada ibu menyusui ingin melakukan treatment smoothing atau semir rambut boleh-boleh saja. Kalau hamil yang tidak boleh," tandasnya. (*)
Berita lainnya di Berita Kesehatan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-ibu-menyusui_20170806_152451.jpg)