Breaking News:

Berita Bali

Terkait Usaha Ritel yang Tutup, Ketua Aprindo Bali Beri Tanggapan

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Bali, Agung Agra Putra menyampaikan dari data yang pihaknya kumpulkan secara umum, kurang lebih sek

Tribun Bali/Rizal Fanany
Ilustrasi - Situasi di salah satu Departemen Store yang ada di Kota Denpasar, Bali 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Karsiani Putri

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Bali, Agung Agra Putra menyampaikan dari data yang pihaknya kumpulkan secara umum, kurang lebih sekitar 40 persen outlet milik retailer di Bali tutup beroperasi.

 Baik yang sifatnya temporary maupun permanent closed.

Menurutnya, retail dengan format hypermarket dan depstore adalah perusahaan berskala besar yang rata-rata memiliki beberapa outlet dengan berbagai strategi brands.

Baca juga: Dorong IKM dan UKM Masuk Toko Ritel, Disperindag Denpasar Sinergi APRINDO Pasarkan Produk IKM/UKM 

Agung Agra Putra mengatakan bahwa penutupan di beberapa outlet merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk melakukan balancing financial dan penguatan branding perusahaan. 

"Contoh Giant tutup, tetapi di sisi lain company mengambil strategi untuk memperkuat Hero Supermarket dan IKEA, Guardians (speciality store, red). Matahari Dept Store menutup beberapa outletnya dengan pertimbangan bisnis analisis untuk memperkuat kontribusi outlet yang memberikan profit serta menyesuaikan perkembangan mall baru."

"Penutupan dilakukan dengan melakukan evaluasi terhadap outlet-outlet yang tidak perform selama beberapa periode," kata Agung Agra Putra. 

Baca juga: Ketua Aprindo Bali Optimis Ritel-ritel Offline Bisa Tetap Eksis di Era Digital Saat Ini

Dirinya menilai bahwa hal tersebut  tidak serta-merta membuat modern retail memiliki masa depan suram di Indonesia, mengingat Indonesia masih merupakan salah satu negara konsumsi.

"Namun, peritel juga harus mampu untuk mengambil peluang yang ada, salah satunya dengan melakukan perubahan model bisnis sesuai dengan kebutuhan pasar," ucapnya kepada Tribun Bali pada Kamis 10 Juni 2021. 

Menurutnya, beberapa faktor yang menjadikan turunnya minat masyarakat untuk berbelanja di gerai-gerai besar, di antaranya perubahan prilaku belanja masyarakat yang ingin lebih efisien dan efektif dalam berbelanja dengan semakin padatnya aktivitas mereka.

Baca juga: Aprindo Beberkan Kesulitan yang Dihadapi Pelaku Industri Ritel di Tengah Pandemi Covid-19

Halaman
123
Penulis: Karsiani Putri
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved