Breaking News:

Kesehatan

PERKI Rekomendasikan Vaksin AstraZeneca Bisa Digunakan untuk Pasien Jantung

"Kami (PERKI) mengimbau semua atau pasien yang memiliki komorbid jantung untuk tidak khawatir divaksinasi.

Editor: Wema Satya Dinata
REUTERS/PETER CZIBORRA
Ilustrasi vaksin Astrazeneca. PERKI Rekomendasikan Vaksin AstraZeneca Bisa Digunakan untuk Pasien Jantung 

TRIBUN-BALI.COM - Kini pasien penyakit jantung tak perlu khawatir dan ragu lagi untuk menerima suntikan vaksin AstraZeneca.

Ketua PP Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Dr dr Isman Firdaus, SpJP(K), mengingatkan, saat ini ancaman Covid-19 lebih berisiko daripada efek samping vaksin Covid-19.

"Kami (PERKI) mengimbau semua atau pasien yang memiliki komorbid jantung untuk tidak khawatir divaksinasi.

Jika tidak ada keluhan, silahkan datang untuk divaksin, karena vaksinasi ini bentuk salah satu ikhtiar kita bersama mencegah Covid-19," ungkap dr Isman dalam konferensi pers virtual, Jumat kemarin.

Baca juga: Apakah Varian Baru Virus Covid-19 Jenis Delta Bisa Diatasi dengan Vaksin astraZeneca dan Sinovac?

Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menyatakan dalam surat rekomendasinya bahwa, pasien dengan komorbid kardiovaskular termasuk penyakit jantung koroner, atrial fibrilasi, penyakit jantung bawaan, riwayat typical venus thromboembolism (VTE) seperti deep vein thrombosis (DVT) tungkai atau emboli paru, adanya trombus intrakardiak serta penggunaan antikoagulan rutin dapat menggunakan vaksin AstraZeneca selama pasien dalam kondisi stabil dan memenuhi kriteria yang telah disampaikan PERKI.

Sementara pasien dengan riwayat heparin-induced thrombocytopenia (HIT) penurunan kadar trombosit akibat penggunaan heparin masuk dalam kelompok yang memerlukan perhatian khusus dan direkomendasikan untuk mendapatkan jenis vaksin lain bila memungkinkan.

"Vaksin AstraZeneca dilaporkan memiliki efektivitas yang baik dan telah mendapat persetujuan untuk digunakan dalam upaya pencegahan penularan Covid-19," tulis keterangan PERKI, Sabtu 19 Juni 2021.

Disampaikan juga, sindrom yang sangat jarang berupa pembekuan darah disertai penurunan kadar trombosit (thrombosis with thrombocytopenia syndrome) dilaporkan terjadi sekitar 4-20 hari setelah vaksinasi.

Hubungan sebab akibat antara vaksindan kejadian trombosis diduga ada

Namun hipotesis tentang mekanisme biologisnya masih memerlukan investigasi lebih lanjut.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved