Breaking News:

Berita Tabanan

Komunitas Bali Wariga Tampilkan Okokan Nangluk Merana di DTW Tanah Lot Tabanan

Antida Music Production, bagian dari komunitas Bali Wariga, bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar acara

Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Tribun Bali/Ni Luh Putu Wahyuni Sari
Komunitas Bali Wariga saat Tampilkan Okokan Nangluk Merana di DTW Tanah Lot Tabanan. 

Laporan Wartawan, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Antida Music Production, bagian dari komunitas Bali Wariga, bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar acara Panggung Seni Tradisi yang menampilkan potensi seni tradisi dari berbagai sekeha tari tradisional di berbagai wilayah di Bali. 

Pementasan ini menjadi sebuah serial program telusur seni tradisi yang akan menampilkan kekayaan seni budaya dari berbagai Kabupaten atau Kota di Bali.

Seluruh rangkaian kegiatan ini akan ditayangkan melalui kanal Youtube antidamusic secara virtual.

Baca juga: Kejari Tabanan Kembangkan Kasus Dugaan Korupsi LPD Belumbang, Kemungkinan Ada Tersangka Baru

Kegiatan pertama dalam serial telusur seni tradisi ini menampilkan Okokan beserta fragmen tari Nangluk Merana dari sekeha Brahma Diva Kencana dan Sanggar Haridwipa Kediri, Tabanan.

Okokan adalah alat musik yang terbuat dari kayu yang bagian dalamnya berisi bandul pemukul sehingga bila digerakkan menimbulkan suara yang dinamis. 

Okokan merupakan bentuk tradisi lama yang diwariskan secara turun-temurun di kabupaten Tabanan.

Sebuah ritual yang bersifat sakral dan biasanya dipentaskan pada saat situasi genting ketika desa mengalami serangan wabah berkepanjangan.

Baca juga: Pengungkapan Kasus Narkotika di Tabanan Meningkat, Hingga Juni Amankan 27 Orang dan 175 Gram Sabu

Okokan akan dimainkan mengelilingi desa sebagai upaya pembersihan.

Selain itu, Okokan juga menjadi sebuah tradisi unik pada saat ritual pengerupukan menjelang hari Raya Nyepi di desa Kediri, Tabanan. Warga tidak membuat ogoh-ogoh yang diarak, melainkan membawa okokan dan tektekan berkeliling desa. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved