Breaking News:

Corona di Indonesia

Covid-19 Membuat Ribuan Anak Jadi Yatim Piatu, Angka Kematian Balita Mencengangkan

Ada sisi manusiawi lain yang harus mendapat perhatian, yaitu dampak langsung pada yang sakit dan keluarga, khususnya anak-anak.

Editor: DionDBPutra
Pixabay
Ilustrasi. Pandemi Covid-19 membuat ribuan anak menjadi yatim piatu. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Mantan Direktur WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Adiama mengatakan, pandemi Covid-19 ini tidak hanya dilihat dari angka statistik saja.

Ada sisi manusiawi lain yang harus mendapat perhatian, yaitu dampak langsung pada yang sakit dan keluarga, khususnya anak-anak.

"Anak-anak harus rela kehilangan ayah atau ibunya yang meninggal karena sakit Covid-19," kata dia dalam pesan tertulisnya, Senin 21 Juni 2021.

Berkaca pada kasus corona di India data 5 Juni 2021, sebanyak 3.632 anak mendadak jadi yatim piatu karena orangtua meninggal akibat Covid-19.

Baca juga: Presiden Instruksikan Penguatan PPKM Mikro dan Percepat Vaksinasi

Baca juga: TERKINI: Rekor Penambahan Tertinggi Kasus Covid-19 di Indonesia, Total Hari Ini Capai 2 Juta

"Kemudian 26.176 anak yang kehilangan salah satu orang tuanya karena penyakit ini. Beberapa pihak bahkan menduga angkanya lebih tinggi lagi dari itu," ujar guru besar FKUI ini.

Ia mengatakan, kebanyakan dari mereka meninggal saat peningkatan kasus dan kematian di India pada April hingga Mei 2021.

"Hal ini sebagai dampak yang amat menyedihkan akibat pandemi ini, atau tragic legacy of India's pandemic, yang mudah-mudahan tidak terjadi di negara kita yang kasusnya sedang terus meningkat," kata Prof Tjandra.

Saat ini pemerintah India menyediakan anggaran amat besar untuk kehidupan anak-anak. "Anak-anak sudah kehilangan orang tuanya, jangan sampai hal seperti ini terjadi di negara kita," kata dia.

Covid-19 bukan hanya masalah kesehatan masyarakat, dan bukan hanya tentang dampak sosial ekonomi, tetapi ini adalah masalah mendasar kemanusiaan.

"Kasus yang masih terus meningkat. Salah satu upaya adalah dengan amat memperketat lagi pembatasan sosial secara nyata. Kasus sudah meningkat beberapa kali lipat, maka kegiatan pembatasan sosial juga harus beberapa kali lipat lebih ketat lagi, tidak bisa hanya meneruskan program yang lama saja. Pengetatan secara nyata harus dilakukan agar jangan sampai terus jatuh korban secara menyedihkan. Mari kita tanggulangi Covid-19, mari kita lindungi anak-anak kita," ujar Prof Tjandra.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved