Berita Bali

10 Hari Pelaksanaan PPKM Darurat, DKLH Bali Akui Terjadi Penurunan Volume Sampah di TPA Suwung

Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali, I Made Teja mengatakan bahwa dengan bahwa di masa PPKM Darurat ini proses pembuangan

Penulis: Ragil Armando | Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Bali/Rizal Fanany
ilustrasi Gunungan sampah di TPA Suwung, Denpasar - 10 Hari Pelaksanaan PPKM Darurat, DKLH Bali Akui Volume Sampah di TPA Suwung Terjadi Penurunan 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Sepuluh hari pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Bali ternyata sangat mempengaruhi terhadap volume sampai di Pulau Dewata.

Seperti yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung, Denpasar.

Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali, I Made Teja mengatakan bahwa dengan bahwa di masa PPKM Darurat ini proses pembuangan sampah di TPA Suwung masih normal.

Akan tetapi, ia mengakui bahwa jumlah truk pengangkut sampah yang masuk ke tempat pembuangan sampah terbesar di Bali itu mengalami penurunan selama masa penerapan PPKM Darurat.

Baca juga: Buat Gerakan Warga Bantu Warga, BEM 14 Kampus se-Bali Siap Bantu Masyarakat Terdampak PPKM Darurat

“Kalau pembuangan sampah kan masih jalan, sementara melihat dari laporan-laporan  sejak 4 sampai 5  hari ini menurun lah truk yang masuk,” jelasnya saat dikonfirmasi, Selasa 13 Juli 2021.

Ia mengatakan bahwa sampah yang biasanya datang dari pasar-pasar, hotel, dan sekolah kini sudah berkurang, bahkan sangat minim.

Teja menambahkan, bahwa saat masa PPKM Darurat ini sampah-sampah yang masuk ke TPA Suwung sendiri didominasi oleh sampah rumah tangga dan pasar.

“Termasuk sampah dari kegiatan upacara agama sedikit, tidak banyak menimbulkan sampah. Yang ada hanya sampah di pasar saja yang tidak bisa dikendalikan. Hal ini juga berpengaruh dari penerapan jam operasional buka yang dibatasi,” pungkasnya.

Teja juga menyebut bahwa penyebab dari menurunnya jumlah volume pembuangan sampah tersebut terjadi akibat adanya beberapa wilayah yang telah memiliki pengolahan sampah sendiri, yakni Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle ( TPS3R).

“Sudah ada  juga beberapa desa yang kita paksa upayakan mengolah sampahnya di TPS3R, di sana mereka harus mengolahnya. Maksimalkan itu dulu, karena sudah ada gerakan, mudah- mudahan manfaatnya baik,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa ada dua daerah yang saat ini sudah tidak membuang sampahnya lagi ke TPA Suwung, yakni Kabupaten Tabanan dan Kabupaten Gianyar.

Bahkan, kedua daerah tersebut sudah sejak tahun 2019 lalu tidak membuang sampah ke sana.

“Gianyar dan Tabanan sudah berhenti,  sudah lama.  Dari tahun 2019 sudah berhenti. Hanya Denpasar sama Badung yang menggunakan ini,” imbuhnya.

Selain itu, Kabupaten Badung juga telah mengupayakan mengurangi sampah masuk ke TPA Suwung.

Baca juga: TMMD ke-111 di Bali, Kodam IX/Udayana Bukakan Lahan Pertanian Bagi Warga Desa Sebudi

Sebab mereka telah membangun tempat pengolahan sampah di wilayah Mengwi.

“Sampah -sampah yang ada di seputaran Mengwi, termasuk pasar sekitarnya masuk ke situ,” ujar Teja. (*)

Artikel lainnya di Berita Bali

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved