Wawancara Tokoh
Bincang dengan Guru Besar Fakultas Farmasi UGM Prof Zullies, Interaksi Obat Tak Selalu Negatif
Ikawati memastikan kombinasi obat yang digunakan pada pasien Covid-19 tidak menyebabkan interaksi obat yang berakibat fatal
Pada pasien yang mengalami peradangan pada paru-paru, dokter akan memberikan obat anti radang.
Pada pasien yang mengalami pembekuan darah, akan diberikan pengencer darah.
Sementara pada pasien yang memiliki penyakit penyerta, maka dokter akan memutuskan untuk menangani Covid-19 sekaligus penyakit bawaan yang diderita.
"Pasien yang kondisi berat apalagi dengan komorbid, mereka akan mendapatkan banyak obat. Tapi sekali lagi, sejauh yang saya tahu tidak ada interaksi yang fatal, apalagi berakibat buruk. Karena tentu penggunaan obat sudah dipertimbangkan," kata Prof Zullies. Berikut petikan wawancaranya:
Apa sebenarnya interaksi obat?
Interaksi obat itu adalah pengaruh satu obat terhadap obat lain ketika dipakai bersamaan pada satu pasien.
Jadi ketika seseorang sakit, terkadang tidak cukup dengan satu macam obat.
Kadang-kadang bisa menggunakan beberapa macam obat dan ada kemungkinan masing-masing obat itu berinteraksi.
Namun demikian interaksi obat itu tidak selalu berkonotasi negatif.
Karena interaksi itu bisa saja saling mendukung, sinergis, dan bisa juga saling melawan.
Sehingga kita tidak bisa menggeneralisir bahwa interaksi obat itu pasti (berdampak) jelek.
Itu engga bisa juga, apalagi sampai mematikan.
Saya kira itu terlalu berlebihan karena kita harus lihat kasus demi kasus.
Dalam kondisi apa interaksi obat bisa menguntungkan dan merugikan?
Interaksi obat adalah efek dari suatu obat kepada obat lain yang digunakan bersamaan.
Sifatnya bisa menguntungkan ketika itu bersama-sama mendukung satu terapi.