Berita Tabanan
Warga Positif Covid-19 Diharapkan Karantina di Tempat Isoter, BOR di Rumah Sakit Tabanan Capai 75 %
justru masih banyak masyarakat yang enggan menjalani isolasi di isoter dan memilih untuk isolasi mandiri (Isoman) di rumahnya. Tercatat ada 1.041
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Wema Satya Dinata
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Satgas Penanganan Covid-19 Tabanan menyarankan seluruh masyarakat yang terpapar dan termasuk OTG maupaun gejala ringan agar melakukan karantina di isolasi terpusat (Isoter) yang telah disediakan.
Ada dua tempat Isoter yang telah disediakan dengan kapasitas 356 kamar.
Disisi lain, justru masih banyak masyarakat yang enggan menjalani isolasi di isoter dan memilih untuk isolasi mandiri (Isoman) di rumahnya. Tercatat ada 1.041 orang yang melakukan isoman.
Menurut data yang berhasil diperoleh, hingga saat ini dari dua tempat isolasi terpusat di Asrama Sekolah Poltrada Bali, Desa Samsam, Kecamatan Kerambitan dengan kapasitas 284 tempat tidur, dan Asrama Pramuka di kecamatan Marga dengan kapasitas 72 bed. Keduanya sudah terisi 140 bed.
Baca juga: Tabanan Anggarkan Rp85 Miliar untuk Penanganan Covid 19
Banyaknya bed yang tersisia karena masyarakat lebih memilih untuk menjalani isolasi mandiri dirumah dengan alasan lebih merasa nyaman dan dekat dengan keluarga.
"Masih banyak juga yang isolasi mandiri di rumahnya kok, mungkin karena mereka merasa lebih nyaman di rumahnya sendiri. Jika rumahnya memenuhi syarat untuk isolasi mandiri kan tidak masalah, misalnya punya ruangan khusus untuk isolasi tersebut boleh dilakukan isoman. Sedangkan yang tidak memiliki ruangan khusus kami sarankan ke isoter karena kami pastikan dilakukan penanganan yang baik," ungkap Sekretaris Satgas Penanganan Covid 19 Tabanan, I Gede Susila saat dikonfirmasi, Minggu 1 Agustus 2021.
Menurutnya, imbauan isolasi terpusat ini melihat potensi penyebaran jika dilakukan isolasi mandiri.
Meskipun sudah menerapkan prokes dan sudah dijaga serta diawasi dengan baik, kemungkinan bisa menular di lingkungan keluarga masih bisa terjadi. Apalagi berada di lingkungan keluarga besar.
"Jadi kelebihan dari isolasi terpusat adalah potensi-potensi untuk penularan ke lingkungan yang lain akan lebih minimal dalam artian akan lebih kecil. Sehingga betul-betul bisa mengisolasi, dan bisa mencegah terjadinya penularan ke orang-orang di sekitar pasien yang terinfeksi Covid," jelasnya.
"Sehingga saya selalu mendorong agar semua yang positif diisolasi terpusat untuk menghindari yang lain tertular, terlebih lagi jika ada keluarga atau orang tua yang punya penyerta tentunya akan berbahaya juga terjadi penularan," tegasnya.
Pria yang juga menjabat sebagai Sekda Tabanan ini menegaskan, pihak pemerintah menjamin mereka yang melakukan isolasi terpusat akan menjalani kegiatan penyembuhan dengan baik, mulai dari pemantauan kesehatan rutin, fasilitas makan tiga kali dengan gizi cukup, olahraga, berjemur, dan lainnya.
"Selama masa karantina, mereka tentu akan diajak merasa nyaman dengan kondisi yang tenang. Ada pengawasan rutin. Bila ada masalah kesehatan, tim kesehatan di sana akan memberikan obat, dan melakukan pemeriksaan juga," ungkapnya.
BOR Rumah Sakit di Tabanan 75 Persen Meskipun Dilaksanakan PPKM
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Tabanan, dr Nyoman Suratmika mengatakan, hingga Minggu 1 Agustus 2021 atau sehari sebelum penutupan pelaksanaan PPKM, tingkat keterisian bed di rumah sakit atau Bed Occupancy Ratio (BOR) di rumah sakit masih di angka 75 persen.
"Hingga saat ini BOR di Tabanan masih tinggi di angka 75 persen," ungkap dr Suratmika.
Baca juga: Pemkab Tabanan Terima Bantuan 6 Konsentrator Oksigen, Masker dan Sejumlah Dana dari CSR
Disinggung mengenai tingkat penyebaran tertinggi di Tabanan hingga saat ini? Suratmika enggan berkomentar lebih jauh.
Pihaknya hanya meminta masyarakat untuk tetap menerapkan protokol kesehatan dengan ketat.(*)
Artikel lainnya di Berita Tabanan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/isolasi-mandiri-di-rumah-bagi-pasien-bergejala-ringan.jpg)