Breaking News:

Serba Serbi

Berikut Pedoman Penulisan Aksara Bali pada Ruang publik

pasang-pageh aksara atau konvensi aksara Bali. Agar penulisan aksara Bali di ruang publik, khususnya instansi pemerintahan tidak salah.

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
Nala Antara
aksara sesuai keputusan Pasamuan Alit Basa Bali 2019 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Aksara Bali memang memiliki pasang aksara, pasang sastra, anggah-ungguhing atau aturan yang mengikatnya. Sehingga dalam penulisannya tidak bisa sembarangan.

Khususnya setelah adanya Peraturan Gubernur Bali Nomor  80  th 2018 tentang tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.

Dalam Pergub tersebut Aksara Bali juga diwajibkan digunakan di ruang publik di atas huruf Latin.

Untuk itu perlu dipahami dengan baik dan benar, pasang aksara atau konvensi aksara Bali itu. Agar penulisan aksara Bali di ruang publik, khususnya instansi pemerintahan tidak salah.

Baca juga: 1.183 Cakep Lontar di UPTD Gedong Kirtya Singaraja Sudah Dialih Aksara

Berikut penjelasan dari Gde Nala Antara, pakar aksara Bali kepada Tribun Bali, Minggu 15 Agustus 2021.

Banyak yang masih bingung, khususnya dalam penulisan aksara adeg-adeg di tengah kalimat.

Nala Antara, sapaannya mengatakan hal itu boleh dilakukan. Sesuai keputusan Pasamuhan Alit Basa Bali tahun 2019, khusus untuk penulisan di ruang publik.

Contohnya dalam penulisan aksara desa adat, jika ada aksara lainnya di belakang kata adat maka penulisan adat bisa menggunakan adeg-adeg.

Selain itu, dosen Fakultas Sastra, Universitas Udayana ini juga mengingatkan ihwal pasang jajar palas. Atau dalam bahasa Indonesia disebut spasi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved