Berita Karangasem
50 Persen Desa di Karangasem Terancam Alami Kekeringan Saat Musim Kemarau
Sesuai perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi serta Geofisika (BMKG), di Karangasem tak terjadi hujan beberapa hari kedepan.
Penulis: Saiful Rohim | Editor: Wema Satya Dinata
TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - 50 persen desa di Kabupaten Karangasem diperkirakan akan mengalami kesulitan air bersih (kekeringan) saat musim kemarau.
Sesuai perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi serta Geofisika (BMKG), di Karangasem tak terjadi hujan beberapa hari kedepan.
Plt. Kepala BPBD Karangasem, IB Ketut Arimbawa, mengatakan, daerah di Karangasem yang mengalami kesulitan air bersih tersebar di beberapa Kecamatan. Seperti Kecamatan Kubu, Abang, Bebandem, dan Karangasem.
"Di Kubu hampir semua desa kesulitan air bersih saat kemarau," kata IB Arimbawa, Senin 30 Agustus 2021.
Baca juga: Buleleng dan Karangasem Siaga Kekeringan, BMKG Rekomendasikan Untuk Mitigasi Dampak Kekeringan
Daerah yang diperkirakan kesulitan memperoleh air bersih rata - rata karena minim sumber air dan lokasinya juga berada di atas ketinggian.
Seperti di Desa Ban bagian atas, Tianyar bagian atas, Tianyar Barat, Baturinggit, Tulamben bagian atas, Dukuh, Kedampal, Buana Giri, Datah, & Sukadana.
"Untuk tahun ini (2021) jumlah desa yang kesulitan air bersih saat kemarau menurun dibanding sebelumnya. Banyak ditemukan sumber mata air baru. Dibangun pamsims, dan gali sumur baru. Seperti di Desa Sukadana," akui Arimbawa, mantan Kabid Pemadam Kebakaran (Damkar) Karangasem.
Pejabat asal Singaraja ini mengatakan, BPBD telah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengantisipasi kesulitan air bersih terhadap masyarakat. Seperti koordinasi dengan Dinas Sosial (Dinsos) Karangasem, Palang Merah Indonesia Cabang Karangasem, Komunitas ACT, dan Bank.
Instansi swasta, seperti perbankan dan pengadaian, menyatakan siap mendistribusikan air bersih jika ada permintaan dari masyarakat.
Sampai kini belum ada daerah di Kabupaten Karangasem yang mengajukan air bersih ke BPBD / instansi terkait.
Petugas bersedia mengirimkan air bersih ke lokasi.
"Yang penting lokasi jelas. Tempat untuk menampung air milik umum. Harapannya saat petugas mengirimkan air, warga bisa menikmati semua.
Seandainya tempat penampungan air milik pribadi harus ada persetujuan," harap Arimbawa.
Petugas sudah mengimbau warga untuk tetap hati-hati.
Baca juga: Peletakan Batu Pertama Pembangunan Museum Arak di Karangasem Telah Digelar
Untuk diketahui, saat mengalami kekeringan / kesulitan air bersih, warga terpaksa membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seperti memasak, minum, serta cuci pakaian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/embung-yang-digunakan-menampung-air-hujan-di-banjar-dinas-dalem.jpg)