Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Untaian Kisah Inspiratif dari Bali, Mereka yang Tetap Kreatif di Tengah Pandemi Covid-19

Khusus di Bali dampaknya sangat terasa karena hampir 80 persen sektor perekonomian Pulau Dewata ditopang pariwisata.

Penulis: DionDBPutra | Editor: DionDBPutra
TRIBUN BALI/RIZAL FANANY
Pengusaha garmen Made Suparta menunjukkan tumpukan kain bahan kaus oleh-oleh khas Bali di gudangnya, kawasan Tukad Pancoran, Denpasar, Minggu 29 Agustus 2021. Kini dia beralih usaha kuliner. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pandemi Covid-19 yang bergulir riuh sejak awal 2020 memukul hampir semua lini kehidupan masyarakat.

Khusus di Bali dampaknya sangat terasa karena hampir 80 persen sektor perekonomian Pulau Dewata ditopang pariwisata.

Covid-19 yang mensyaratkan manusia harus jaga jarak dan anti-kerumunan. Jadi, mana mungkin orang berbondong-bondong ke objek wisata?

Alhasil sangat banyak yang terpukul. Tak sedikit keluh kesah dan nestapa. Namun, pandemi Covid-19 juga mengajarkan orang tetap kreatif untuk bertahan hidup. Survive!

Baca juga: Inspiratif, Dari Nabung Sampah, Masyarakat Sumerta Kelod Denpasar Bisa Mepatung Babi Tiap Galungan

Baca juga: Kisah Inspiratif untuk Kemanusiaan, Relawan Bali Ambulance Ini Antar Jenazah Sampai ke Sumatera

Berikut ini sejumlah orang yang sempat diwawancarai Tribun Bali ihwal perjuangan dan kiat mereka bertahan di tengah pandemi Covid-19.

Seperti kebanyakan warga Bali, pengusaha garmen Made Suparta ikut terkena imbas pandemi Covid-19.

Semenjak usaha garmennya tutup pada Maret 2020 lalu, ia gulung tikar dan tidak mendapatkan pendapatan sepeserpun.

"Semenjak tutup pendapatan langsung 0 persen," katanya kepada Tribun Bali, Minggu 29 Agustus 2021.

Sebelum pandemi, biasanya Made Suparta mengirim kaus yang sudah disablon dengan tulisan Bali ke pasar oleh-oleh di seluruh Bali, Toko Krisna Oleh-oleh atau Pasar Seni Sukawati, Bedugul, Kuta hingga Tanah Lot.

Ketika pariwisata masih berjaya, Made Suparta memproduksi kaus hingga 1.000 pcs per hari. Omzet produksinya mulai dari Rp 30 juta hingga Rp 50 juta.

"Dulu setiap hari produksi. Karyawan dulu 35 orang. Semua kita rumahkan. Sempat kita bantu hingga pertengahan Juli, kasih sembako dan gaji tetap. Akhirnya habis sudah dana cadangan kita, perputaran modal tidak ada," ujarnya.

Apakah Suparta putus asa? Tidak sama sekali karena hidup harus terus berjalan. Kini dia alih usaha kuliner. Mulai dari kecil-kecilan dulu.

"Untuk hidup bergantung pada kuliner nasi jingo. Saya coba belajar memulai kuliner dengan membuka nasi jinggo karena nasi kebutuhan dasar. Harga murah menu yang lengkap karena itu kebutuhan pasti mereka beli," ujarnya.

Sama seperti kebanyakan orang, Made Suparta berharap semoga pandemi Covid-19 segera berakhir. Juga kemungkinan bisa hidup berdampingan dengan Covid-19.

Mantan pramugari sajikan makanan sehat

Mantan pramugari privat jet Anita Nobara melihat pandemi Covid-19 justru membuka peluang usaha. Isu kesehatan merupakan poin utama.

Mantan pramugari private jet Anita Nobara yang kini buka usaha bisnis food and beverage di Denpasar.
Mantan pramugari private jet Anita Nobara yang kini buka usaha bisnis food and beverage di Denpasar. (Tribun Bali/Zaezal Nur Arifin)
Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved