Breaking News:

Serba Serbi

Aturan Pasang Pageh dari Bahasa Sansekerta dan Jawa Kuna ke Aksara Bali

Salah satunya dikenal istilah pasang pageh atau aturan penulisan aksara, jika latinnya berasal dari bahasa Jawa Kuna dan Sansekerta

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
Istimewa
Gde Nala Antara 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam penulisan aksara Bali, dikenal adanya aturan-aturan yang mengikat atau konvensi.

Salah satunya dikenal istilah pasang pageh atau aturan penulisan aksara, jika latinnya berasal dari bahasa Jawa Kuna dan Sansekerta.

Biasanya aksara ini terdapat pada lontar masa lalu (kuno) atau sumber literatur lainnya saat masa lalu.

Praktisi dan Pakar Aksara Bali, Gde Nala Antara, menjelaskan bahwa pasang pageh adalah pasang aksara yang sesuratannya (tulisannya) memang seperti itu.

Baca juga: Makna Hari Raya Banyupinaruh Sebagai Penyucian Diri dengan Aksara, Begini Penjelasan Akademisi

Serta kruna yang memakai pasang pageh, biasanya berasal dari bahasa Kawi atau Jawa Kuno dan Sansekerta.

Semisal kata Arjuna dan prabu. Kata Arjuna yang berasal dari bahasa Sansekerta, jika ditulis ke dalam aksara Bali maka pasang pagehnya harus menggunakan Akara pada huruf A.

Kemudian untuk prabu, sesuai pasang pageh harus menggunakan ba kembang (bha).

Begitu juga tulisan bupati, harus menggunakan ba kembang dan suku ilut, sesuai pasang pageh.

Ada pula beberapa aksara yang matedong, seperti kata nagasari yang merupakan gabungan dari kata naga dan sari. Dalam aksara Bali, aksara 'na' dan 'sa' pada kata nagasari matedong di belakangnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved