Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Relasi Prancis  dengan Amerika Serikat dan Australia Memanas Gara-gara Kapal Selam

Penarikan itu terkait kesepakatan keamanan trilateral yang berujung pada pembatalan kontrak kapal selam rancangan Prancis senilai 40 miliar dolar AS

Tayang:
Editor: DionDBPutra
AFP/BRENDAN ESPOSITO / POOL
File foto yang diambil 2 Mei 2018 menunjukkan Presiden Prancis Emmanuel Macron (kedua dari kiri) dan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull (tengah) berdiri di dek HMAS Waller, kapal selam kelas Collins yang dioperasikan Angkatan Laut Australia, di Garden Island di Sydney. Australia diperkirakan membatalkan kesepakatan senilai 66 miliar USD bagi Prancis untuk membangun kapal selam, menggantikannya dengan kapal selam bertenaga nuklir menggunakan teknologi AS dan Inggris. 

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken pada Kamis 16 September 2021 mencoba menenangkan protes Prancis. Dia menyebut Prancis sebagai mitra penting di Indo-Pasifik.

Hari Jumat 17 September 2021, Perdana Menteri Australia Scott Morrison menolak kritik Prancis bahwa Prancis belum diberi peringatan tentang kesepakatan baru itu.

Menurut Morrison, dirinya sudah menyinggung topik itu ketika melakukan pembicaraan dengan sang presiden Prancis --bahwa Australia kemungkinan membatalkan kesepakatan proyek kapal selam 2016 dengan sebuah perusahaan Prancis.

Morrison mengakui hubungan Australia-Prancis menjadi rusak tetapi bersikeras dia telah memberi tahu Macron pada Juni bahwa Australia telah merevisi pemikirannya.

“Kami makan malam cukup lama di Paris. Saya memperjelas kekhawatiran kami yang sangat signifikan perihal kemampuan kapal selam konvensional untuk menghadapi lingkungan strategis baru yang kami hadapi,” katanya kepada 5aa Radio.

"Saya sudah menjelaskan secara rinci bahwa ini adalah masalah yang perlu diambil Australia untuk kepentingan nasional kami."

Pengumuman Prancis muncul ketika Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne berbicara di lembaga kajian American Enterprise Institute di Washington. Payne tidak memberi sinyal bahwa dirinya tahu soal penarikan tersebut.

Mengacu pada kesepakatan kapal selam, Payne mengatakan keputusan komersial dan strategis seperti itu sulit untuk dikelola.

Tetapi ketika menanggapi sebuah pertanyaan, dia mengatakan "tentu saja" Prancis tetap menjadi sekutu yang berharga.

"Saya benar-benar mengerti kekecewaan itu," katanya.

"Tugas saya adalah bekerja sekeras yang saya bisa ... untuk memastikan bahwa mereka memahami nilai yang kami tempatkan pada peran yang mereka mainkan dan memahami nilai yang kami tempatkan pada hubungan bilateral dan upaya yang ingin kami terus lakukan bersama."

Ketegangan hubungan di antara sekutu-sekutu lama itu terjadi ketika Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya mencari dukungan lebih luas di Asia dan Pasifik di tengah kekhawatiran soal peningkatan pengaruh China, yang semakin agresif.

Prancis akan mengambil alih kepresidenan Uni Eropa, yang pada Kamis merilis strateginya untuk Indo-Pasifik, seraya berjanji mengupayakan kesepakatan perdagangan dengan Taiwan serta mengerahkan lebih banyak kapal untuk menjaga rute laut tetap terbuka.

Pierre Morcos, peneliti tamu pada lembaga kajian Center for Strategic and International Studies di Washington, menyebut langkah Prancis itu "bersejarah."

"Kata-kata meyakinkan seperti yang terdengar kemarin dari Menlu Blinken tidak cukup untuk Paris --terutama setelah pihak berwenang Prancis mengetahui bahwa proses pembuatan perjanjian itu berlangsung selama berbulan-bulan," katanya. (antara)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved