Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Relasi Prancis  dengan Amerika Serikat dan Australia Memanas Gara-gara Kapal Selam

Penarikan itu terkait kesepakatan keamanan trilateral yang berujung pada pembatalan kontrak kapal selam rancangan Prancis senilai 40 miliar dolar AS

Tayang:
Editor: DionDBPutra
AFP/BRENDAN ESPOSITO / POOL
File foto yang diambil 2 Mei 2018 menunjukkan Presiden Prancis Emmanuel Macron (kedua dari kiri) dan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull (tengah) berdiri di dek HMAS Waller, kapal selam kelas Collins yang dioperasikan Angkatan Laut Australia, di Garden Island di Sydney. Australia diperkirakan membatalkan kesepakatan senilai 66 miliar USD bagi Prancis untuk membangun kapal selam, menggantikannya dengan kapal selam bertenaga nuklir menggunakan teknologi AS dan Inggris. 

TRIBUN-BALI.COM, PARIS - Prancis mengalami krisis diplomatik yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan Amerika Serikat dan Australia pada Jumat 17 September 2021 setelah menarik para duta besarnya dari kedua negara itu.

Penarikan itu terkait kesepakatan keamanan trilateral yang berujung pada pembatalan kontrak kapal selam rancangan Prancis senilai 40 miliar dolar AS atau setara Rp 570 triliun.

"Keputusan langka yang diambil oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dibuat karena betapa serius masalah ini," kata Menteri Luar Negeri Jean-Yves Le Drian dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Begini Respons Indonesia Atas Keputusan Australia Miliki Kapal Selam Bertenaga Nuklir

Baca juga: AS Beri Australia Kapal Selam Nuklir untuk Mengimbangi Kekuatan Militer China

Pada Kamis 16 September 2021, Australia mengatakan akan membatalkan kesepakatan senilai 40 miliar dolar dengan perusahaan kontraktor pertahanan Prancis, Naval Group, untuk membangun armada kapal selam konvensional.

Sebagai gantinya, Australia akan membangun setidaknya delapan kapal selam bertenaga nuklir dengan teknologi buatan AS dan Inggris setelah ketiga negara membuat kemitraan keamanan.

Prancis menyebut kesepakatan trilateral itu sebagai tindakan menusuk dari belakang.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Amerika Serikat menyesali keputusan Prancis untuk menarik duta besarnya dan bahwa Washington telah berbicara dengan Prancis mengenai penarikan itu.

Pejabat tersebut mengatakan Amerika Serikat akan melakukan pembicaraan Prancis beberapa mendatang untuk menyelesaikan perbedaan pandangan.

Seorang juru bicara perdana menteri Australia menolak berkomentar tentang masalah ini.

Sebuah sumber diplomatik di Prancis mengatakan ini adalah pertama kalinya Paris menarik duta besarnya dengan cara seperti ini.

Pernyataan kementerian luar negeri itu tidak menyebutkan Inggris, tetapi sumber diplomatik mengatakan Prancis menganggap Inggris telah bergabung dengan kesepakatan itu secara oportunistik.

"Kami tidak perlu mengadakan konsultasi dengan duta besar (Inggris) kami untuk mengetahui apa yang harus dilakukan atau untuk menarik kesimpulan apa pun," tambah sumber itu.

Le Drian mengatakan kesepakatan itu tidak dapat diterima.

"Pengabaian proyek kapal selam ... dan pengumuman kemitraan baru dengan Amerika Serikat yang bertujuan meluncurkan studi baru untuk kemungkinan kerja sama propulsi nuklir di masa depan adalah perilaku yang tidak dapat diterima di antara sekutu," katanya dalam sebuah pernyataan pada Jumat.

"Konsekuensinya menyentuh konsep yang kita miliki tentang aliansi, kemitraan kita, dan pentingnya Indo-Pasifik bagi Eropa."

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved