Pura di Bali
Sejarah Pura Kahyangan Tiga, Berikut Kisahnya di Masa Pemerintahan Sri Dharma Udayana Warmadewa
Sebelum beliau dinobatkan menjadi raja di Bali, beliau adalah seorang pangeran yang bernama Udayana. Sedangkan istrinya bernama Mahendradatta (seorang
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
Hal ini mencerminkan bentuk penghormatan pemerintah kerajaan terhadap agama Siwa dan agama Budha.
Selain itu, penasehat kerajaan juga diambil dari senopati yang salah satunya adalah Senopati Kuturan.
"Atau yang boleh dikatakan sampai saat ini, salah satu Senopati yang sangat termasyur karena keahliannya," sebutnya.
Dengan adanya penasehat-penasehat kerahaan ini, baik yang dari pandita maupun senopati ternyata dapat membawa kemajuan yang sangat pesat.
"Hal itu karena masing-masing senopati diberikan hak untuk memajukan daerah wilayahnya. Sehingga terjadi perubahan dan kemajuan yang begitu besar dalam pemerintahan baginda raja suami-istri ini di Bali," jelas mantan kepala sekolah ini.
Dijelaskan pula, bahwa Senopati Kuturan ikut menjadi Badan Penasehat Baginda Raja Gunapriya Dharmapatni atau Dharmaudayana Warmadewa.
Dari beberapa senopati yang menjadi anggota badan penasehat. Hanya Senopati Kuturan yang paling sering dituliskan ke dalam prasasti-prasasti.
Hal itu terjadi, karena kecakapan dan keahlian beliau sebagai senopati di kerajaan suami-istri ini.
Kedatangan Senopati Kuturan dari Jawa ke Bali, diundang oleh baginda raja suami-istri ini untuk membantu menertibkan kemasyarakatan penduduk di Bali.
Senopati Kuturan, datang ke Bali pada akhir abad ke-10 (tahun 993 Masehi). Selain itu, beliau juga membantu pada bidang adat-istiadat dan agama.
Baca juga: Makna Hari Raya Tumpek Landep Bagi Umat Hindu Bali Menurut Lontar Sundarigama
Baginda Raja Sri Dharmaudayana Warmadewa dan Gunapriya Dharmapatni mengangkat beliau sebagai senopati kerajaan.
"Dan juga sebagai ketua majelis yang beranggotakan semua senopati dan para pandita Siwa-Budha dengan sebutan 'Pakira-kira I Jro Makabehan'," sebutnya.
Kemudian sebagai ketua majelis, beliau menggagas pertemuan dengan beberapa pihak di batu anyar yang diikuti oleh tiga unsur kekuatan.
Meliputi pihak Budha Mahayana diwakili oleh Senopati Kuturan.
"Beliau juga sebagai ketua sidang. Kemudian pihak Siwa diwakili oleh pemuka Siwa dari Jawa. Pihak 6 Sekta diwakili oleh pemuka adalah Sekta Bali Mula," sebutnya.