Breaking News:

Berita Denpasar

Mahasiswa Teknik Lingkungan dan Teknik Sipil Unmas Denpasar Olah Masker Jadi Bahan Campuran Beton

Mahasiswa Teknik Lingkungan dan Teknik Sipil Unmas Denpasar mengolah limbah masker medis menjadi beton

Tribun Bali/Rizal Fanany
Mahasiswa Teknik Lingkungan dan Teknik sipil melakukan proses daur ulang pengolahan limbah masker di Universitas Mahasaraswati, Denpasar, Sabtu 9 Oktober 2021. Pengolahan limbah masker dijadikan bahan campuran untuk beton dan paving blok bertujuan untuk mengurangi pencemaran lingkungan. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Limbah masker medis yang jumlahnya setiap hari meningkat membuat kumpulan Mahasiswa Teknik Lingkungan dan Teknik Sipil Unmas (Universitas Mahasaraswati) Denpasar mengolahnya menjadi salah satu bahan bangunan yakni beton.

Kegiatan pengolahan limbah masker yang dijadikan bahan campuran beton ini dinamakan Covid Concrete atau disingkat dengan Covcrete19.

Ketika ditemui, I Made Wahyu Wijaya selaku Ketua Tim Peneliti Covid Concrete menceritakan bagaimana mulanya tercetusnya ide ini.  

"Jadi disini kami melihat ada peningkatan sampah masker selama pandemi ini, terutama masker medis di kegiatan domestik atau rumah tangga.

Baca juga: Bakti Sosial HMPS Manajemen UNMAS Denpasar: Satu Suara untuk Peduli, Banyak Langkah untuk Berbagi

Lalu kebetulan pada bulan April itu ada semacam kompetisi pendanaan penelitian dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).

Mereka memberikan kesempatan untuk penelitian-penelitian di bidang kesehatan, salah satunya di bidang kesehatan ini kami mengambil sub temanya penganggulangan sampah medis," katanya, Sabtu 9 Oktober 2021. 

Lebih lanjut ia mengatakan, dari sana pihaknya melihat ternyata sampah medis dapat dihasilkan dari kegiatan domestik atau rumah tangga karena digunakan hampir setiap hari.

Setelah melihat banyaknya sampah medis yang dihasilkan rumah tangga, ia dan kumpulan mahasiswa tersebut melakukan survei penggunaan masker medis.

Hingga didapatkan penggunaan masker medis oleh rumah tangga dalam waktu satu hari berjumlah satu hingga 3 masker. 

"Masker yang telah digunakan tersebut langsung dibuang di sampah rumah tangga dijadikan satu tanpa ada pemilihan.

Oleh karena itu, daripada mencemari lingkungan karena tidak bisa didaur secara alami.

Maka dari itu kami menemukan ide penganggulangan limbah masker medis ini adalah dengan di solidifikasi atau dibentuk dengan dipadatkan," tambahnya. 

Dari sana ia langsung berdiskusi dengan mahasiswa dan orang-orang yang terkait dengan teknik sipil.

Memungkinkan untuk menambahkan serat dari masker ini menjadi bahan campuran untuk beton dan paving blok.

Baca juga: FKG Unmas Denpasar Bagikan 100 Paket Sembako Kepada Warga Lelateng Jembrana

Masker sendiri memiliki kandungan semacam serat yang bisa diambil dan menjadi campuran untuk paving blok. 

"Dari sanalah ide itu muncul dan akhirnya kami terpilih untuk mendapatkan pendanaan dari BNPB untuk melakukan penelitian ini.

Jadi mulai bulan April itu sudah jalan, lalu bulan Mei dan Juni untuk pengumpulan maskernya.

Jadi kami infokan melalui sosial media bahwa ada pengumpulan masker di kampus kami Universitas Mahasarawati Denpasar.

Bagi yang memiliki sampah masker bisa dikumpulkan di rumah dan dikumpulkan ke kami akan diolah dijadikan bahan campuran ini," paparnya. 

Seluruh masker medis bisa digunakan untuk campuran beton.

Namun, masker medis yang digunakan merupakan masker medis hasil dari kegiatan rumah tangga, bukan dari kegiatan klinik atau rumah sakit.

Khusus dari kegiatan sehari-hari seperti dari perkantoran dan rumah tangga.

Beberapa orang pun terlibat dalam pembuatan beton yang dicampurkan limbah masker ini. 

"Kami tim peneliti ada dosen dari jurusan Teknik Lingkungan dan Teknik Sipil berkolaborasi.

Baca juga: Konsistensi UNMAS Denpasar Mengabdi Dalam Pelestarian Nyurat Aksara Bali

Kemudian ada teman-teman mahasiswa dari Teknik Lingkungan dan Teknik Sipil Fakultas Teknik Unmas Denpasar yang membantu proses pengumpulan masker, pembuatan dan pengolahannya," terangnya. 

Sementara untuk beton yang sudah dihasilkan masih dalam tahap penelitian. Jadi akan diuji kualitas beton ini dan paving bloknya.

Jika kedepannya terpenuhi syarat, bahwa beton ini bisa dikomersilkan mungkin akan ditindaklanjuti. 

"Masih akan diteliti terkait penggunaan serat masker.

Kalau untuk beton kami ada 36 benda uji dengan beberapa variasi pencampuran serat masker ada 0 sampai 0,75 persen.

Ada 0 persen tanpa serat masker ada 0,125 0,25 0,375 persen untuk campuran masker.

Jadi akan kami uji semua yang mana kualitasnya paling bagus.

Akan jadi referensi jika kedepannya akan digunakan untuk komersial," tuturnya.

(*) 

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved