Serba serbi
Keseimbangan Alam Semesta, Pentingnya Tumpek Wariga dan Tumpek Kandang Dalam Hindu Bali
Sudah sejak lama umat Hindu mengenal dan merayakan hari suci, dengan menghaturkan ritual yadnya serta bebantenan (upakara) di Bali.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sudah sejak lama umat Hindu mengenal dan merayakan hari suci, dengan menghaturkan ritual yadnya serta bebantenan (upakara) di Bali.
Hal ini bukanlah tanpa alasan. Selain melestarikan warisan adat budaya yang adiluhung.
Makna yang terkandung di dalam upacara dan upakara itu sangatlah mulia.
Contohnya dalam perayaan hari suci Tumpek Wariga dan Tumpek Kandang. Hal ini berkaitan dengan menjalankan norma dan pedoman hidup, sesuai ajaran Tri Hita Karana.
Baca juga: Peruntungan Lahir Senin Kliwon Wariga, Hidup Senang dan Baik Sekali di Usia 50 - 60an
Tri Hita Karana, berasal dari tiga kata yang memiliki makna filosofis luar biasa. Tri artinya tiga, Hita artinya kebahagiaan, dan Karana artinya penyebab. Sehingga Tri Hita Karana adalah tiga penyebab terciptanya kebahagiaan.
Tiga penyebab kebahagiaan di alam semesta ini, adalah Parhyangan, Pawongan, dan Palemahan.
Parhyangan adalah menjaga hubungan baik manusia dengan Tuhan. Pawongan adalah menjaga hubungan baik manusia dengan sesama manusia. Serta Palemahan adalah menjaga hubungan baik manusia dengan alam semesta.
Dengan terjaganya hubungan baik ini, maka tentunya akan tercapai pula kebahagiaan dan keseimbangan.
Dalam lontar Sundarigama dijelaskan, bahwa dalam perayaan hari-hari suci tersebut lah, ajaran Tri Hita Karana diimplementasikan.
Baca juga: Peruntungan untuk Mereka yang Lahir Selasa Paing Watugunung, Berdasarkan Wariga dan Pal Sri Sedana
Implementasinya melalui bentuk upacara, susila, dan tattwa sebagai satu kesatuan. Sehingga upacara dilaksanakan atas dasar tattwa dan susila.
"Pelaksanaan upacara agama mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungan," jelas I Nyoman Suarka, Koordinator Alih Aksara, Alih Bahasa dan Kajian Lontar Sundarigama, Senin 11 Oktober 2021.
Disebutkan bahwa upacara persembahan kepada Tuhan dengan segala manifestasi beliau merupakan perwujudan rasa bakti umat Hindu kepada Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
"Sebab Tuhan adalah sumber segala yang ada, baik alam semesta maupun seluruh isinya," imbuh guru besar Unud ini.
Sehingga dengan berbakti kepada Tuhan, melalui yadnya pada hari suci, maka dipercaya Tuhan akan melimpahkan anugerah-Nya kepada umat. Sehingga umat dapat hidup dengan selamat, sejahtera dan damai lahir batin.
Kemudian implementasi nilai dalam hubungan manusia dengan sesama manusia, adalah dalam bentuk sesajen persembahan yang ditujukan kepada Tuhan atau para dewa (Widhi Widana).
Terlihat saat dalam pelaksanaan upacara agama Hindu di Bali, dilakukan dengan cara gotong-royong.
Hal ini tercermin dalam kehidupan sosial, yang diikat dengan sistem adat atau desa pakraman. Dimana umat Hindu melaksanakan upacara agama bersama-sama.
Bergotong-royong saling membantu mengerjakan tugas hingga selesai. Semuanya memiliki tugas dengan keahliannya, seperti tukang sekaa gong mengambil peran menabuh gamelan.
Tukang banten mengambil peran membuat, dan mengatur, serta menata banten atau upakara (sesajen).
Lalu ada sulinggih dan pemangku, yang berperan memimpin upacara yadnya. Dan peran serta semua elemen masyarakat di dalam sebuah desa adat (pakraman) ataupun banjar.
Hal inilah yang mencerminkan hubungan antara sesama manusia.
Dengan harapan semuanya menjadi mudah dengan bekerjasama, dan tercapailah kebahagiaan itu. Kemudian sumber kebahagiaan lainnya terletak pada hubungan manusia dengan alam lingkungan.
Hal inilah yang tercermin dari perayaan hari suci Tumpek Wariga dan Tumpek Kandang. Termasuk pula perayaan upacara Bhuta Yadnya.
Perayaan hari suci Tumpek Panguduh atau Tumpek Wariga, yang jatuh pada Sabtu Kliwon Wariga bertujuan mendoakan keselamatan dan kesuburan tumbuh-tumbuhan.
Sebab tumbuh-tumbuhan adalah salah satu sumber kehidupan mahluk hidup di muka bumi ini. Sehingga dipercaya saat hari suci Tumpek Wariga ini, umat Hindu pantang memotong atau menebang pohon kayu. Sebab hari tersebut adalah hari penghormatan bagi tumbuh-tumbuhan.
Apalagi tumbuh-tumbuhan adalah salah satu ciptaan-Nya. Kemudian ada pula hari suci Tumpek Kandang, yang jatuh pada Saniscara Kliwon wuku Uye.
Hari suci ini ditujukan sebagai penghormatan dan doa kepada para hewan dan binatang, termasuk binatang peliharaan. Sebab binatang pula adalah ciptaan Tuhan. Serta menjadi sumber kehidupan bagi manusia.
Umat Hindu di Bali juga sangat menghormati sekala-niskala, baik dunia nyata dan metafisika (gaib). Mahluk halus atau bhuta ini juga patut dihormati. Sebab mereka pula ciptaan Tuhan.
"Sekalipun bhuta tersebut diyakini memiliki energi negatif dan destruktif," jelas profesor ini.
Tentu saja, energi yang negatif itu bilamana disomia atau diubah menjadi energi positif maka tentu menjadi sumber kebahagiaan bagi mereka dan umat manusia.
Karena mahluk tidak akan menggangu melainkan saling melindungi dan menjaga. Untuk itu di dalam Hindu Bali dikenal lah istilah Bhuta Yadnya.
Hal itu diwujudkan dengan menghaturkan sesajen persembahan secara seimbang, yakni sesajen yang diperuntukkan kepada Tuhan dan para dewa (Widhi Widana). Sesajen untuk manusia (prakerti manusa). Serta sesajen untuk alam lingkungan (banten sor).
Pelaksana Tumpek Wariga, Tumpek Kandang, bahkan Tawur Agung Kesanga sebelum Nyepi adalah hal penting dalam pelaksanaan keseimbangan melalui upacara dan upakara yadnya.
Dalam lontar Sundarigama, ini merupakan wujud penghormatan kepada alam lingkungan beserta isinya agar seimbang, selamat, sempurna, dan lestari sehingga dapat mencapai kebahagiaan. (*)
Artikel lainnya di Serba serbi