Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ngopi Santai

Kesetrum Vibrasi Energi Pak Kyai

Apakah yang dimaksud dengan pancaran itu adalah aura? Vibrasi, radiasi atau resonansi energi? Ataukah apa lagi?

Tayang:
Penulis: Sunarko | Editor: Sunarko
pixabay
Foto ilustrasi tentang getaran gelombang 

Saya memang selipkan kata “diusahakan” untuk sedikit mendesak, karena sebelumnya ustad sempat beberapa kali bilang “pak, nanti suatu waktu akan saya ajak bertemu beliau”, tetapi cuma bilang tinggal bilang. Tidak pernah ada realisasi.

Ternyata, orang yang dimaksud ustad itu adalah gurunya sendiri.

[Belakangan saya menyimpulkan bahwa ustad menunda-nunda mengajak saya bertemu dengan orang itu, bisa jadi karena ustad khawatir saya belum siap dengan pertemuan itu, karena kemungkinan ada pesan-pesan kepada saya untuk tirakat dari orang itu]

Baca juga: Dunia dan Kehidupanmu Berubah Mengikuti Hatimu, Bukan Karena Kerja Kerasmu

Akhirnya kami (saya dan ustad) tiba di rumah orang itu pada awal Februari 2019.

Kami masuk ke ruang tamunya yang tidak seberapa lebar, namun terlihat cukup bersih. Ruang tamu tanpa meja kursi, sehingga kami duduk bersila di bawah.

Tikar “jepang” yang teranyam rapi dan terasa halus, sudah tergelar di ruang tamu yang berlantai keramik itu.

Tatkala melihat orang itu muncul dari balik tirai pemisah ruang tamu dan ruang dalam untuk menemui kami, entah mengapa tiba-tiba perasaan saya seperti agak bergetar.

Campur-baur jadi satu antara terkesima dan perasaan lega ketika saya memandang wajahnya. Semua itu mencuat spontan.

Beruntung saya masih bisa mengingat-ingat dan menuliskannya saat ini. Padahal, waktu itu kesadaran saya seperti “tersihir”. Padahal juga, waktu itu beliau belum bicara apapun, namun saya sudah seperti tercekat.

Ustad pun baru memulai membuka pembicaraan. Termasuk memperkenalkan siapa saya kepada orang itu, yang tatkala baru muncul ke ruang tamu langsung disambar telapak tangannya oleh ustad untuk dicium agak lama.

Di kemudian hari, saya menyapa orang itu dengan panggilan "pak kyai". 

Saat itulah “suatu pengalaman” menyelimuti saya. Ketika baru memulai bicara, tiba-tiba saya merasa seperti “terpulihkan”, terasa ada sebagian himpitan di dada saya yang seperti tiba-tiba terlepas, jadi plong. Batin saya yang menggelegak sebelum perjumpaan itu pun mulai mereda, geloranya seakan-akan terserap tapi entah kemana. Akhirnya, mata saya pun berkaca-kaca.

Padahal ya itu tadi, orang itu belum bicara apa-apa. Beliau baru mendengarkan saja kami bicara, dan sesekali ia  tampak seperti mengangguk pelan.   

Apakah kejadian pertemuan yang saya alami dengan pak kyai itu bisa menerangkan tentang “kesalehan memancarkan cahaya keilahian” seperti yang diungkapkan oleh Hawkins di atas? 

Atau, mungkinkah kejadian yang saya alami terhadap gurunya ustad itu adalah suatu “penyelenggaraan ilahi” (providentia dei) yang istimewa, sehingga peristiwa di awal pertemuan itu menjadi seperti “momen sakral” yang melegakan batin ?

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved