Breaking News:

Berita Bali

Daya Tular Varian MU Relatif Rendah, Diisukan Kebal terhadap Vaksin & Dapat Picu Ledakan Kasus Covid

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan saat ini virus Covid-19 telah bermutasi dan terdapat varian baru yakni varian bernama MU atau B.1.621.

Tribun Bali/Adrian Amurwonegoro
Ahli Virologi Unniversitas Udayana Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika - Daya Tular Varian MU Relatif Rendah, Diisukan Kebal terhadap Vaksin & Dapat Picu Ledakan Kasus Covid 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAROrganisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan saat ini virus Covid-19 telah bermutasi dan terdapat varian baru yakni varian bernama MU atau B.1.621.

Munculnya varian baru ini dikhawatirkan bersifat kebal terhadap vaksin dan memicu terjadinya ledakan pasien Covid-19 diakhir 2021 hingga awal 2022.

Ahli Virologi FKH Universitas Udayana Bali, I Gusti Ngurah Kade Mahardika menyatakan, daya tular virus Covid-19 varian MU terbilang rendah.

Prof Mahardika menyebutkan, varian MU (baca: miu) lahir lebih dulu dibandingkan varian Delta.

Baca juga: Menteri Sosial Pastikan Bantuan bagi Anak Yatim Piatu Korban Covid-19 Berlanjut hingga Desember 2021

"Saat ini, proporsi varian delta yang dianalisis 1 bulan terakhir lebih dari 99 persen di dunia, sementara varian MU ini masih di bawah 0,1 persen. Dengan demikian, virus Covid-19 varian MU ini tidak memiliki daya tular seperti yang diberitakan sebelumnya," katanya, Sabtu 23 Oktober 2021.

Sementara itu, terkait dengan sifat varian virus tersebut kebal vaksin, Prof Mahardika menyatakan, hal tersebut belum bisa dibuktikan.

Sudah ada banyak vaksin Covid-19 yang digunakan.

Sehingga tidak bisa disimpulkan jika varian MU ini kebal terhadap jenis vaksin Covid-19 yang ada.

"Prediksi ledakan penularan pasien Covid-19 pada periode akhir 2021 sampai dengan awal 2022 akan terjadi. Jika ledakan penularan terjadi pada periode gelombang ketiga sepertinya tidak akan separah pada gelombang pertama dan kedua," paparnya.

Hal tersebut dapat dilihat dari data negara-negara di dunia yang angka vaksinasinya sudah mencapai 60 persen dari total jumlah penduduknya, menunjukkan jumlah orang meninggal akibat Covid-19 tetap konsisten rendah.

"Artinya semua vaksin yang digunakan menekan risiko perawatan rumah sakit dengan gejala berat dan risiko meninggal dunia. Karena semua vaksin tampaknya tidak mampu menekan transmisi komunitas yang ideal, sehingga angka kasus belakangan ini memang kembali melonjak di banyak negara, namun angka kematian relatif rendah," katanya. (*).

Baca juga: WHO Belum Rekomendasikan Anak di Bawah 12 Tahun Divaksinasi Covid-19, Ini Alasannya

Kumpulan Artikel Bali

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved