Berita Bali

Jadi Beban Masyarakat, DPRD Bali Sebut Aturan Tes PCR Masuk Bali Tak Masuk Akal

Pemberlakuan aturan baru calon penumpang pesawat terbang harus menjalani tes PCR benar-benar mendatangkan banyak masalah di lapangan.

Penulis: Ragil Armando | Editor: Harun Ar Rasyid
Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin
Suasana pengecekan dokumen kesehatan penumpang di pintu masuk terminal keberangkatan domestik Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Senin 5 Juli 2021. 

DENPASAR, TRIBUN BALI - Pemberlakuan aturan baru calon penumpang pesawat terbang harus menjalani tes PCR benar-benar mendatangkan banyak masalah di lapangan.

Akibatnya, harga tes PCR di Bali melonjak tajam mencapai Rp1,9 juta sehingga memberatkan masyarakat, khususnya yang akan bepergian.

Terkait hal tersebut, Anggota Komisi I DPRD Bali, Made Rai Warsa mengaku bahwa hal tersebut terjadi akibat adanya penerapan aturan wajib tes PCR untuk masuk Bali.

“Teman-teman Satgas sudah bekerja dengan baik dan hasilnya sangat bagus, kasus menurun. Namun aturannya kembali diperketat, kan tidak nyambung, paradok jadinya,” jelas Rai Warsa, Minggu 24 Oktober 2021.

Baca juga: Belasan Warga Sampaikan Aspirasi Terkait Ganti Rugi di Proyek Normalisasi Sungai Unda Klungkung

Menurut politikus PDIP itu, aturan tersebut justru membebani masyarakat.

Padahal, ekonomi Bali sendiri saat ini sudah mulai berputar akibat penurunan level PPKM.

Namun, justru dengan turunnya level PPKM di Bali, malah membuat syarat masuk ke Pulau Dewata lebih ketat.

“Apa sih tujuan pemerintah saat ini?, apakah ingin ekonominya bangkit, apa bagaimana?” tanya dia.

Menurut Rai Warsa, jika harus PCR diterapkan bagi wisdom, Ia pun mempertanyakan dari mana regulasinya.

 Bisa gak menjamin pemerintah pusat kapan ini (pandemi,red) selesai?, lusa, besok, seminggu, setahun, dua tahun?. Dengan aturan seperti ini apa kajiannya?, apa keinginan pemerintah?” ungkapnya.

Baca juga: ABG Usia 12 Tahun Diduga Disetubuhi Pamannya Dua Kali di Jembrana

Menurut Rai Warsa sendiri, saat ini kasus sudah melandai terlebih kerja tim satgas jelas telah bisa dilihat, hal itu semestinya dipertahankan. Jangan justru pemerintah mempersulit masyarakatnya lagi.

“Prokes tetap diperketat, tapi penerapan PCR ini masyarakat dibebankan. Menurut saya tidak tepat menerapkan PCR untuk tamu domestik. Kalau wisman oke lah,” imbuhnya.

Ia pun mempertanyakan hal ini dengan dasar semua komponen memiliki keinginan agar ekonomi bisa jalan.

“Jika perlakukan PCR adakah tamu datang?, berapa sih yang mau mengeluarkan uang untuk PCR dalam situasi seperti ini?. Apa parameternya, alasan utamanya apa?. Kalau dulu diterapkan, iya dalam kasus positif meningkat. Sekarang sudah melandai, ekonomi masyarakat harus jalan jangan dibebankan lagi,” tandas Rai Warsa.

Baca juga: Sosialisasi Megaproyek Jalan Tol Mengwi-Gilimanuk Dilanjutkan, Ada Tambahan Satu Desa yang Terdampak

Sebelumnya, Bayu Rizki, salah seorang penumpang pesawat terbang yang hendak kembali ke Jakarta usai liburan di Bali menyebut hampir semua lokasi tes PCR di Pulau Dewata overload.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved