Serba Serbi
MAKNA Melukat bagi Umat Hindu Bali, Begini Teknik hingga Hari Baik Melukat
Salah satu ritual keagamaan yang sering dilakukan oleh umat Hindu di Bali adalah melukat. Ini makna, teknik hingga hari baik melukat.
Penulis: I Putu Juniadhy Eka Putra | Editor: Widyartha Suryawan
TRIBUN-BALI.COM – Salah satu ritual keagamaan yang sering dilakukan oleh umat Hindu di Bali adalah melukat.
Melukat merupakan upacara pembersihan yang diyakini dapat memberi vibrasi positif pada seseorang, terutama pikiran dan jiwa secara niskala.
Situs Kementerian Agama RI Gianyar Bali menyebut umumnya terdapat 3 tempat untuk melukat.
Pertama, di kelepusan sumber mata air seperti pancoran Sudamala, Pancoran Solas, Pancoran Tirta Empul dan yang lainnya.
Kedua, palukatan dapat dilakukan di pertemuan dua sumber mata air atau lebih.
Ketiga, pelukatan juga dapat dilakukan di pantai, karena diyakini memiliki energi-energi positif yang banyak berasal dari alam.
Adapun mantra yang digunakan sebelum melukat adalah Om Sarira Parisudhamam Swaha yang artinya; Semoga badan fisik dan badan pikiran menjadi suci.
Baca juga: Warga Melukat di Pantai Watu Klotok, Diawasi Ketat Satgas Covid-19 Klungkung
Makna Melukat
Melukat berasal dari kata Lukat (Bahasa Kawi, Bali) yang memiliki arti pembersihan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia melukat memiliki arti melepaskan.
Ketua PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) Bali, I Gusti Ngurah Sudiana menjelaskan, melukat sendiri berasal dari kata Sulukat yakni “Su” yang artinya baik dan “Lukat” yang memiliki arti penyucian.
"Artinya menyucikan diri untuk memperoleh kebaikan," ujar Sudiana dikutip dari Kompas.com pada Senin, 25 Oktober 2021.
Pada pustaka suci Manawa Dharmasastra Bab V Sloka 10 menyebutkan;
1. Abdhir gatrani wddyanti (tubuh dibersihkan dengan air)
2. Manah satyena (pikiran dibersihkan dengan kejujuran)
3. Cuddhyti, cidyata pobhyam (roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa)