Serba Serbi
MAKNA Melukat bagi Umat Hindu Bali, Begini Teknik hingga Hari Baik Melukat
Salah satu ritual keagamaan yang sering dilakukan oleh umat Hindu di Bali adalah melukat. Ini makna, teknik hingga hari baik melukat.
Penulis: I Putu Juniadhy Eka Putra | Editor: Widyartha Suryawan
4. Buddhir jnanena cuddhyatir (akal dibersihkan dengan kebijaksanaan)
Setelah menerapkan makna dan arti sloka tersebut, maka melutkan peun menggunakan sarana air sebgai pembersihan
Baca juga: Wisata Religi, Sembuh Setelah Melukat di Pancoran Solas Taman Mumbul Sangeh
Teknik Melukat
Sebelum melakukan pelukatan, umat terlebih dahulu melakukan persembahyang dan menghaturkan banten (sesaji) dengan canang sari dengan sesari, dupa dan alat persembahyangan lainnya.
Selain itu, masyarakat diminta untuk memohon doa kepada Dewa-Dewi yang berada di tempat pemelukatan agar dilancarkan dalam menysucikan energi-energi negatif dari dalam tubuh.
Selanjut, masyarakat Hindu yang hendak melakukan pelukatan tidak diperkenankan untuk memakai pakaian secara penuh.
Namun diperkenankan untuk mengenakan kamben bagi laki-laki sedangkan perempuan mengenakan kamben yang menutup dari bagian atas.
Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan energi-energi positif mudah masuk dengan sempurna ke dalam tubuh.
Hari Baik Melukat
Menurut Kementrian Agama Hindu Kota Gianyar mengungkapkan bila hari baik dalam melakukan pengelukatan adalah satu hari sebelum atau pun sesudah purnama.
Selain itu, hari baik lainnya seperti; ngembak geni, banyu pinaruh, tilem.
Baca juga: Melukat di Pura Tirta Suranadi Klungkung, Tirta Muncrat Satu Diantara Sumber Air Panglukatan
Weda menyebutkan, matahari mempengaruhi kehidupan dan bulan turut mempengaruhi pikran.
Lebih Lanjut, Sudiana mengatakan, ritual melukat juga sebagai bentuk persiapan diri sebagai umat manusia untuk memulai kehidupan baru dan tentu lebih baik di masa selanjutnya.
Melukat harus dipimpin oleh sulinggih atau pendeta Hindu. Sesajen seperti canang sari akan disiapkan dengan diberikan mantra-mantra oleh sulinggih.
Selain itu, air kelapa gading juga dipersiapkan karena dianggap diyakini sebagai air suci.
"Jadi orang yang akan melukat itu akan dimantrai terlebih dahulu oleh pemangku. Baru setelah itu dilakukan upacara berupa disiram dengan air kelapa gading. Pada saat disiram itu lah dibersihkan dia," kata dia. (*)