Sejarah
Inilah Sosok Rohana Kudus, Wartawati Pertama di Indonesia
Mungkin tak banyak yang tahu, Rohana Kudus adalah kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan juga bibi dari penyair
Pada 10 Juli 1912, dia mendirikan surat kabar perempuan bernama Sunting Melayu.
Susunan redaksi mulai dari pemimpin redaksi, redaktur, dan penulis semuanya perempuan.
Selain Sunting Melayu, karya-karya jurnalistik Rohana Kudus juga tersebar di banyak surat kabar, seperti Saudara Hindia, Perempuan Bergerak, Radio, Cahaya Sumatera, Suara Koto Gadang, Mojopahit, Guntur Bergerak, dan Fajar Asia.
Rohana mendapatkan jaringan internasional karena bisnis kain tenun, hal itulah yang menjadi dorongan baginya untuk mendirikan Sunting Melayu.
Ia semakin banyak mendapatkan lebih banyak lagi informasi tentang kemajuan kaum perempuan di Eropa.
Ibarat meminum air laut, dahaga Roehana akan ilmu dan perjuangan tak pernah lepas. Setelah berdiskusi dengan suaminya Abdul Kuddus yang juga aktivis pergerakan, Rohana terpikir untuk mendirikan surat kabar.
Tujuannya untuk menginpisrasi kaum perempuan di Sumbar dan Indonesia agar tak mau kalah dengan kaum laki-laki untuk menjadi insan terpelajar.
Keinginan Rohana untuk mendirikan surat kabar mendapat dukungan dari pimpinan Warta Berita Mahyuddin Datuk Sutan Maharajo.
Surat kabar yangdidirikan Rohana bersama Dt. St Maharajo bernama Soenting Melajoe. Koran ini pertama kali terbit pada 10 Juli 1912.
Sutan Maharajo menjadi pemimpin umum, Roehana menjadi pemimpin redaksi dan Zahara Ratna Djuita yang merupakan putri Dt Sutan Maharajo menjadi editor.
Pada 25 Agustus 1974, Rohana Kudus memperoleh gelar pelopor wartawan perempuan Sumatera Barat dan perintis pers oleh pemerintah atas jasanya dalam memperjuangkan bangsa melalui dunia jurnalistik.
Mendirikan Rohana School
Ketika pindah ke Bukittinggi, Rohana kembali mendirikan sekolah bernama Rohana School.
Namanya yang telah melambung di berbagai surat kabar membuat sekolahnya sangat diminati. Muridnya berasal dari berbagai daerah.
Tak hanya mengajar formal, Rohana juga mengajar wirausaha dengan agen mesin jahit singer. Konsumennya adalah murid-muridnya sendiri.
Pada mulanya, Rohana belajar membordir menggunakan mesin jahit singer dari orang Tionghoa.
Dia pun menjadi perempuan pertama yang menjadi agen jahit. Sebelumnya, usaha tersebut hanya dilakukan oleh orang Tionghoa saja.
Rohana mengedukasi masyarakat Koto Gadang akan pentingnya pendidikan.
Ia bahkan membuat gerakan dana pendidikan untuk membiayai ribuan anak Koto Gadang agar dapat sekolah ke luar kota hingga mendapatkan gelar sarjana.
Oleh karena itu, pada masa itu banyak masyarakat Koto Gadang yang memiliki gelar sarjana.
Rohana juga dipercaya menjadi guru di Sekolah Darma. Muridnya pun kini tak lagi perempuan, melainkan juga laki-laki.
Dari semua guru di sekolah tersebut, hanya Rohana yang tak pernah menempuh pendidikan formal.
Mula-mula dia hanya mengajar keterampilan menyulam dan merenda, namun pada akhirnya dia diminta mengajar semua mata pelajaran.
Gelar Pahlawan Nasional
Kementerian Sosial Republik Indonesia menetapkan Rohana Kudus atau Ruhana Kuddus, jurnalis perempuan pertama asal Sumatera Barat, sebagai Pahlawan Nasional tahun 2019.
Hal ini ditetapkan berdasarkan pertemuan Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan dengan Presiden Joko Widodo pada 6 November 2019 lalu.
Ada pula Surat Menteri Sosial Rl nomor :23/MS/A/09/2019 tanggal 9 September 2019 perihal usulan calon Pahlawan Nasional tahun 2019.
Penobatan gelar itu dilakukan dalam acara Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional di Istana Negara pada tanggal 8 November 2019. Kemensos turut mengundang Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, dan juga sejumlah ahli waris dari Ruhana Kuddus.
Artikel ini telah tayang di TribunBatam.id dengan judul Mengenal Sosok Rohana Kudus, Wartawan Perempuan Pertama di Indonesia, Bagaimana Kiprahnya?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/gnl.jpg)