Berita Bali

Apa yang Dilakukan Saat Merayakan Umanis Galungan?

Sehari setelah hari raya Galungan, Kamis 11 November 2021, umat Hindu merayakan Umanis Galungan

Penulis: Putu Supartika | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Rizal Fanany
Ilustrasi umat Hindu sembahyang. Apa yang dilakukan saat merayakan Umanis Galungan? 

“Poinnya merayakan kemenangan, merasa angayubagia, terbebas dari pengaruh Sang Tiga Buta, Tri Mala, Sad Ripu, Sapta Timira, Dasa Mala dalam keseharian,” imbuhnya.

Esok yakni saat Paing Galungan, umat Hindu memulai kehidupan baru, yakni kehidupan yang terhindar dari sifat-sifat bhuta.

Sehingga dalam hal ini ada konsep Tri Semaya yakni kemarin, sekarang, dan besok.

Kemarin saat Hari Raya Galungan merayakan hari kemenangan dharma melawan adharma.

Dimana secara harfiah Galungan berasal dari kata galung yang artinya menang.

Ngegalung yakni merayakan kemenangan, dan galungan berarti kemenangan.

“Kemarin kita menang dari adharma, dimana adharma itu adalah awidya.

Secara ritual dirayakan dengan nanceb penjor sebagai wujud rasa syukur atas kemakmuran.

Saat penampahan juga kita membunuh segala sifat awidya dan menghindarkan diri dari Sang Tiga Bhuta.

Lalu saat Galungan diawali dengan persembahyangan di rumah, yakni di sanggah panegtegan, pakamulan.

Baca juga: Lahir Umanis Galungan, Dermawan Walaupun Rezekinya Kecil

Baru di sanggah i bapa atau yang dibuat orangtua, lalu ke pemaksan, dadia, panti, dan dilanjutkan ke pura di desa pakraman,” katanya.

Sehingga setelah perayaan Hari Raya Galungan, kini dirayakan Umanis Galungan.

“Karena sekarang kan maknanya banyak yang bergeser, bahwa Umanis Galungan itu melali ke objek wisata.

Itu kan baru sekala, sehingga harus ada juga niskalanya dengan melakukan persembahyangan ke Pura Kawitan,” katanya.

(*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved