Music Zone
Potret Keresahan Antibodi di Single "Punk Rock Toxic Salad"
Pagebluk Covid-19 tidak melulu dijadikan alasan atau penghalang bagi unit punk rock asal Denpasar, Antibodi berdiam diri nihil karya.
Penulis: Putu Candra | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pagebluk Covid-19 tidak melulu dijadikan alasan atau penghalang bagi unit punk rock asal Denpasar, Antibodi berdiam diri nihil karya.
Justru, di tengah terjangan badai pandemi yang hampir memasuki tahun kedua ini, Antibodi getol melahirkan deretan karya termutakhir.
Setelah sukses merilis album penuh bertajuk "Still Going Strong" pada April 2021 lalu dengan single perdana "726" disusul single kedua berjudul "Aku Dan Sekolah".
Baca juga: Jerinx SID & Antrabez Rilis Single Barisan Badai, Refleksi Hidup, Tercipta Kala Dibalik Jeruji Besi
Band yang digawangi oleh Joe Karsa (vokal dan gitar), Ciko Inside (bass dan vokal) dan Agus Fore (drum) kembali hadir dengan single terbarunya. Adalah single berjudul "Punk Rock Toxic Salad" yang telah dirilis secara digital awal bulan November 2021.
Di single ""Punk Rock Toxic Salad" ini, Antibodi kembali memotret fenomena yang terjadi di sekitaran masyarakat.
"Lagu ini dikonsep kurang lebih sekitar 2018, namun baru sempat dieksekusi di akhir 2019 hingga awal 2020 dalam proses workshop pada masa pra-rekaman album Still Going Strong," tutur Joe Karsa.
Baca juga: Pelajar sampai Podcaster Cocok Pilih Vivo Y33s, Ponsel 3 Jutaan yang Baru Rilis di Indonesia
Awalnya sambung Joe karsa, lagu ini terinspirasi dari sebuah opus yang epic gubahan grup band legendaris asal Inggris, Queen, yaitu Bohemian Rhapsody.
Mengusung gaya serupa, gabungan pelbagai jenis dan gaya bermusik berbeda kedalam sebuah alunan dinamis yang dramatis, lagi penuh intrik.
"Tetapi yang membedakan "Punk Rock Toxic Salad" dengan Bohemian Rhapsody adalah, tema lagu, warna musik, dan juga durasi lagu yang tak sepanjang inspiratornya," ujarnya.
Secara tematik, seperti kebanyakan lagu yang disodorkan Antibodi, kritik sosial Kembali menjadi tajuk utama. Berawal dari kegelisahan Antibodi terhadap pemberitaan yang sering kali lebih mementingkan sensasi demi menjual cerita.
"Hal ini bermula dari sebuah tayangan podcast pasangan muda artis dan selebgram mengenai sebuah tajuk berita bernada gosip yang mereka alami," ungkap Ciko Inside.
Baca juga: Dua Penyanyi Cilik Asal Bali Rilis Single, Zarra dan Diki Tampilkan Karakter Kuat dan Lembut
Pula Antibodi mencoba menangkap fenomena yang mengatasnamakan jurnalistik akhir-akhir ini.
Mereka resah melihat banyaknya pemberitaan yang disalahgunakan untuk kepentingan-kepentingan politis. Hingga akhirnya melihat apa yang terjadi selama kurang lebih setahun terakhir ini.
"Kebenaran sebuah berita dan keselarasan tajuk kiranya tidak serta-merta menggiring opini masyarakat menuju ke arah yang menyesatkan," imbuh Agus Fore.
Seperti pada karya sebelumnya, "ledakan kemarahan" di single "Punk Rock Toxic Salad" Antibodi tuangkan melalui beragam jenis subgenre musik seperti, street punk, hardcore, thrash metal, skinhead, dan rock’n’roll.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/personel-antibodi.jpg)