Breaking News:

Serba Serbi

Hari Raya Kuningan Selesai Sebelum Siang, Berikut Alasannya

Karena dipercaya bahwa bhatara-bhatari telah meninggalkan alam sekala menuju alam niskala.

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Noviana Windri
Tribun Bali/Gungsri
banten gebogan dan dapetan saat Kuningan 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Banyak yang bertanya-tanya, mengapa saat Kuningan umat Hindu diarahkan agar selesai mebanten dan sembahyang sebelum jam 12 siang.

Selain dari lontar Sundarigama, yang menjelaskan bahwa setelah siang hari para dewa dan roh leluhur kembali ke alam sunia. 

Alasan lainnya, dijelaskan oleh Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, kepada Tribun Bali, Sabtu 20 November 2021.

Dalam kepercayaan umat Hindu di Bali, leluhur dan ida bhatara-bhatari, bukannya balik pada siang hari dan turun pada pagi hari, tetapi sebaliknya.

"Dalam kepercayaan umat Hindu di Bali, ida bhatara-bhatari sudah hadir (sudah turun) sejak Galungan dan akan balik ke alam niskala pada pagi hari sebelum (tengai tepet) tengah hari," jelas sulinggih asal Sesetan, Denpasar ini.

Baca juga: Antisipasi Kerumunan Jelang Hari Raya Kuningan, Kapolres Badung Lakukan Patroli Berskala Besar

Baca juga: Kali Ini Jatuh Saat Penampahan Kuningan, Berikut Makna Purnama 

Baca juga: Jelang Hari Raya Kuningan, Stok Sembako Aman Namun Ada Kenaikan Harga di Denpasar

Oleh karena itu, untuk upacara saat Kuningan diharuskan sudah selesai sebelum jam 12.00 siang (sebelum tengai tepet), karena dipercaya bahwa bhatara-bhatari telah meninggalkan alam sekala menuju alam niskala.

"Hal ini memiliki nilai filosofis, dimana kalau kita ingin mempertahankan kemenangan Dharma, maka kita harus selalu giat berusaha tidak bermalas-malasan tetapi harus rajin tanpa menunda-nunda waktu," tegas pensiunan dosen UNHI Denpasar ini. 

Sebab, lanjut beliau, apabila bermalas-malasan dan menunda-nunda, maka tentu saja akan ketinggalan. Baik itu ketinggalan yang dimaksud disini adalah ketinggalan waktu, kesempatan, dan rezeki. 

"Untuk itu lakukanlah pekerjaan atau kegiatan sedini mungkin, agar tidak terlambat dan tidak ditinggalkan oleh waktu," imbuh beliau. Itulah makna hari Kuningan yang harus dipahami semua umat Hindu di Bali dan Nusantara. 

Sehingga sampai saat ini, masyarakat Hindu tetap memegang warisan pengetahuan tentang Kuningan ini. Dimana maknanya sangat dalam sekali. Beliau menambahkan, apabila ingin maju (Dharma menang melawan Adharma).

"Maka janganlah kita malas, jadilah kita orang yang selalu pertama atau selalu di depan, agar tidak ketinggalan (agar tidak Dharma dikalahkan oleh Adharma)," tegas beliau. (ask)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved