Berita Bali

Pengabdian Hanoman pada Rama dan Sita, Kisah Heroik Epos Ramayana

Filosofi sosok Dewa Hanoman, ternyata sangat luar biasa, hadir ke dunia untuk membantu Sang Rama melawan kejahatan dan kelaliman

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Irma Budiarti
Wikipedia
Hanoman. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Mendengar kata Hanoman, mungkin tidak akan asing di telinga kita.

Sosok kera putih, pembela kebenaran di epos Ramayana ini telah mendunia sejak lama. Sehingga dikenal oleh seluruh elemen masyarakat. 

Dewa Hanoman pun, menjadi salah satu tokoh penting di dalam kehidupan Jero Balian Bayu. Balian muda yang kini sedang naik daun di Pulau Dewata.

Putra dari balian Jero Putu Robinson ini, sejak kecil selalu merasa bahwa karunia Dewa Hanoman bersama dengannya.

Baca juga: Hukum Rta, Berikut Sekilas Ilmu Astronomi Dalam Hindu 

"Kadang kalau bermimpi buruk, sosok beliau (Dewa Hanoman) selalu hadir," ucapnya dalam program Bali Sekala-Niskala Tribun Bali beberapa waktu lalu.

Sosok Dewa Hanoman pun, kerap membantu Jero Balian Bayu saat mengobati pasiennya. 

Terkhusus pasien dengan gejala non medis, akibat terkena ilmu hitam dan sebagainya.

Namun filosofi di balik sosok Dewa Hanoman, ternyata sangat luar biasa.

Keberanian dan kekuatannya, konon hadir ke dunia untuk membantu Sang Rama melawan kejahatan dan kelaliman. 

Dewa Rama sendiri, adalah titisan Dewa Wisnu yang merupakan salah satu bagian Awatara. Turun ke dunia demi menegakkan kebenaran dan keadilan.

Epos Ramayana, merupakan bagian dari Itihasa. Dan Itihasa adalah salah satu bagian Weda yakni Upaweda. 

Banyak yang setuju, bahwa dalam epos Ramayana sosok Dewa Hanoman adalah simbol pengabdian yang tulus ikhlas pada Rama dan Ayodya Pura.

Konon setiap helai rambut di badan Dewa Hanoman, bertuliskan nama Rama. 

Hanoman sangat setia dalam menegakkan Dharma bersama Sri Rama.

Baca juga: Sosok Hanoman Merah, Ini Kisah Mistis Cagar Budaya Candi Tebing Jukut Paku Gianyar

Salah satu puncak pengabdian Hanoman adalah ketika Sri Rama berperang dengan Rahwana.

Sang raja serakah dari Alengka Pura. Dikisahkan bahwa Rahwana berhasil menculi Dewi Sita, istri dari Sang Rama. 

Penculikan ini mengakibatkan perang antara dua kerajaan. Rahwana yang juga sakti, tetap tidak mau melepaskan istri Sang Rama.

Karena ia telah terpesona oleh kecantikan dan keanggunan Dewi Sita.

Rahwana mengurung Dewi Sita di istana megahnya, menunggu sang dewi dengan rela mencintainya. 

Tentu saja Dewi Sita tidak pernah membalas perasaan itu. Cinta sejatinya hanya untuk Sang Rama seorang.

Konon pula, Hanoman yang sangat mengagumi Sang Rama dan Sita, hanya ingin agar mereka bersemayam di hatinya. Hanoman ingin cinta sejati itu terus ada di dalam hatinya. 

Berdasarkan kisah, disebutkan pula bahwa Hanoman membelah dadanya hingga terlihat jantung hatinya.

Sang Rama yang senang dengan kesetiaan dan pengabdian tulus ikhasnya. Bersama Dewi Sita masuk ke dalam lubuk hati Hanoman.

Baca juga: Kagumi Sosok Dewa Hanoman, Jero Balian Bayu Tiba-tiba Dapat Hadiah Gada 

Uniknya setelah itu lubuk hati Hanoman kembali seperti semula tanpa ada bekas luka.

Pengabdian Hanoman ini, untuk mendapatkan sifat-sifat ketuhanan di dalam diri Sang Rama dan Sita.

Sebab rasa itu yang akan menjadi pengendali hidup di jalan Dharma atau kebenaran.

Sehingga dari kisah ini, kita dapat menarik intisari bahwa Tuhan adalah hal yang harus kita kejar dan selalu disemayamkan di dalam diri, hati, dan pikiran manusia.

(*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved