Breaking News:

Berita Denpasar

Ngaku Interpol untuk Peras Korbannya, WN Rusia Diadili 

Evgenii Bagriantsev (56) menjalani sidang perdananya secara daring di Pengadilan Negeri (PN), Selasa, 23 November 2021.

ist
Evgenii Bagriantsev saat menjalani sidang secara daring. Terdakwa asal Rusia ini diadili terkait kasus pemerasan dengan modus mengaku sebagai informan interpol. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Evgenii Bagriantsev (56) menjalani sidang perdananya secara daring di Pengadilan Negeri (PN), Selasa, 23 November 2021.

Terdakwa asal Rusia ini diadili terkait dugaan pemerasan terhadap korbannya inisial NR, warga negara Uzbekistan.

Dalam menjalankan aksinya terdakwa Evgenii mengaku sebagai anggota Interpol.

Di persidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Made Dipa Umbara mendakwa Evgenii dengan dakwaan tunggal.

"Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 368 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) KUHP," terang Jaksa Dipa Umbara. 

Baca juga: Terkait Isu Pelecehan Seksual di Kampus Unud, Pihak Polresta Denpasar Angkat Bicara

Terhadap dakwaan JPU tersebut, terdakwa didampingi penasihat hukumnya tidak mengajukan eksepsi atau keberatan. 

Seperti diketahui, kasus ini bermula pada tanggal 17 Pebruari 2021 terdakwa Evgenii dan Maxim Zhilitisov (masih buron) mendatangi tempat kerja korban di Jalan Batu Bolong, Canggu, Kuta Utara, Badung.

Di sana, keduanya mengatakan kepada korban bahwa tempat usaha tersebut milik Dimitri Babaev dan sedang dicari pihak kepolisian. Terdakwa juga mengatakan kepada korban, dirinya adalah informan dari Interpol.

Jika korban tidak mau bekerja sama, maka korban akan mendapat masalah karena bersokongkol dengan Dimitri Babaev. 

Baca juga: Vaksinasi Anak 6 – 11 Tahun di Kota Denpasar Akan Menyasar 65 Ribu Anak

Kemudian korban diminta menyusun daftar jumlah sepeda motor sebanyak 21 unit milik Dimitri Babaev, dan diserahkan kepada terdakwa dan temannya.

Keesokan harinya secara bertahap sepeda motor tersebut diambil oleh tersangka sampai tanggal 26 Maret 2021.

Lalu pada tanggal 22 Mei 2021 terdakwa kembali mengancam korban dengan mengatakan, bahwa tempat usahanya bermasalah dan bisa dipidana penjara sampai dengan 4 tahun dan denda sebesar Rp400 juta. 

Berdasarkan hal itu terdakwa meminta uang sebesar Rp 230 Juta kepada korban, tetapi korban mengatakan tidak mempunyai uang. Namun karena diancam terus akhirnya korban mentransfer uang secara bertahap dengan total Rp 121 juta. Juga korban menyerahkan 1 buah sepeda motor XMAX seharga Rp 50 juta. Adapun total kerugian yang dialami korban sebesar Rp171 juta. (*)

Berita lainnya di Berita Denpasar

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved